Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Maka, ketika akhir-akhir ini sejumlah kalangan mendiskusikan kasus teror dan ancaman kepada mereka menyuarakan kritik, pertanyaan utamanya adalah siapa dalang dibalik aktivitas teror dan ancaman itu? Siapa yang bermain dan mencoba mengail di air keruh?
Para pembantu terdekat atau sosok-sosok kepercayaan Presiden Prabowo patut mewaspadai kasus ini.
Sebelum muncul anggapan atau asumsi-asumsi liar yang berdampak pada citra Presiden dan pemerintahannya, kasus ini hendaknya ditanggapi dengan bijaksana.
Bagaimanapun, ancaman dan teror itu dilakukan oknum tertentu yang nyata-nyata bertujuan menghancurkan atau membunuh karakter Prabowo dalam peran dan fungsinya sebagai Presiden dan kepala pemerintahan.
Dengan teror dan ancaman kepada para pengkritik pemerintah, dalang dan oknum pelaku ingin membangun kesan dan membentuk persepsi publik bahwa Presiden Prabowo dan pemerintahannya anti kritik.
Masalah ini perlu dikedepankan agar diwaspadai dan juga untuk memastikan terjaganya stabilitas nasional. Sebab, target ancaman dan teror terbaru yang sedang dibahas berbagai kalangan adalah pengalaman buruk ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto.
Pemuda ini diancam dan diteror setelah dia menyuarakan kritiknya dengan menyatakan pemerintah gagal menjamin hak dasar anak, menyusul tragedi bunuh diri seorang siswa SD di Nusa Tenggara Timur (NTT). Tak berhenti pada Tiyo, teror juga dialamatkan kepada ibunya.
Ketika cerita tentang pengalaman buruk Tiyo bertebaran di ruang publik, akan terbentuk beragam anggapan atau asumsi.
Salah satunya adalah anggapan bahwa oknum pelaku teror dan ancaman itu adalah orang suruhan penguasa atau pemerintah. Anggapan seperti ini harus segera bisa dicegah agar citra pemerintah tidak tercoreng.
Melalui berbagai kebijakan dan pendekatan, setiap presiden atau kepala pemerintahan sejatinya selalu berupaya membangun citra positif. Karena itu, merespons setiap kritik dengan teror tak pernah menjadi pilihan.
Maka, para pembantu terdekat Presiden perlu memberikan respons terukur sebagai kontra terhadap aksi-aksi tak terpuji seperti itu.
Sebab, membiarkan aksi teror dan ancaman seperti itu terus menjadi pembicaraan publik berpotensi mengganggu kondusifitas. Aktor intelektual dan pelaku teror ingin memosisikan Pemerintah dan komunitas yang kritis saling berhadap-hadapan.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.