BREAKING NEWS
Rabu, 04 Maret 2026

Transformasi Paradigma Organisasi Industri Peternakan Babi: Analisis Integratif Sosiopolitik, Keamanan Lingkungan, dan Sains Autentikasi Halal Global

Redaksi - Rabu, 04 Maret 2026 09:44 WIB
Transformasi Paradigma Organisasi Industri Peternakan Babi: Analisis Integratif Sosiopolitik, Keamanan Lingkungan, dan Sains Autentikasi Halal Global
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Oleh Shohibul Anshor Siregar

INDUSTRI peternakan babi di era kontemporer mencerminkan sebuah konvergensi yang kompleks antara dinamika ekonomi agrikultur, urgensi kesehatan publik, keberlanjutan lingkungan, dan sensitivitas sosio-religius yang mendalam. Organisasi industri ini tidak lagi dapat dipahami hanya melalui lensa efisiensi produksi, melainkan harus didekati sebagai sebuah fenomena multidimensi di mana regulasi teknis bersinggungan langsung dengan politik identitas dan sistem kepercayaan global.

Penelitian lintas disiplin mengungkapkan bahwa variasi regional dalam tata kelola peternakan babi sangat dipengaruhi oleh persepsi budaya terhadap hewan tersebut, terutama di wilayah di mana batasan diet agama menjadi faktor determinan dalam kebijakan publik dan interaksi komunal.

Konstruksi Sosiopolitik dan Fenomena Rasialisasi Berbasis Hewan di Malaysia

Di Malaysia, industri peternakan babi telah bergeser dari sekadar sektor ekonomi menjadi arena utama bagi negosiasi identitas etnis dan agama.

Fenomena ini oleh para sosiolog disebut sebagai "rasialisasi berbasis hewan" (animal-linked racialization), sebuah proses di mana hewan tertentu digunakan sebagai instrumen diskursif untuk memperkuat batas-batas antara kelompok hegemonik Melayu-Muslim dan komunitas petani babi etnis Tionghoa. Melalui pola ini, industri peternakan babi tidak hanya diregulasi secara teknis, tetapi juga secara simbolis diposisikan sebagai ancaman terhadap nilai-nilai nasional dan religius yang dominan.

Analisis terhadap diskursus publik di Malaysia menunjukkan adanya penggunaan metafora dan bahasa yang secara konsisten merepresentasikan babi sebagai entitas yang kotor dan tidak diinginkan, yang pada gilirannya menjustifikasi kebijakan zonasi yang diskriminatif dan pengetatan ruang gerak bagi para petani.

Praktik rasialisasi ini seringkali bersifat halus dan implisit, namun memiliki dampak nyata pada keberlangsungan ekonomi industri. Elit politik memanfaatkan kiasan agama dan nasionalisme untuk memarginalkan sektor ini, menciptakan kondisi di mana keadilan lingkungan sering kali diabaikan demi kepentingan politik identitas.

Ketegangan ini menunjukkan bahwa peternakan babi di Malaysia melampaui batasan agrikultur murni, menjadi situs konflik komunal yang mencerminkan disjungsi sosial-budaya antara dua kelompok etnis terbesar di negara tersebut.



Studi bahasa dan kekuasaan mengungkapkan bahwa konstruksi sosial terhadap babi dalam budaya pedesaan sering kali didasarkan pada atribusi negatif yang sudah mendarah daging, yang kemudian diperkuat oleh kebijakan koersif dari pemerintah pusat.

Editor
: Abyadi Siregar
0 komentar
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru