BREAKING NEWS
Sabtu, 27 Juni 2026

Ketika Kekerasan Menguji Komitmen Demokrasi

BITV Admin - Sabtu, 14 Maret 2026 13:52 WIB
Ketika Kekerasan Menguji Komitmen Demokrasi
Detik-detik Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, disiram air keras oleh dua orang tak dikenal. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Dalam waktu yang hampir berdekatan, publik juga menyaksikan adanya ancaman terhadap Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Tiyo Ardianto, setelah ia menyuarakan kritik terkait kasus sosial di Nusa Tenggara Timur.

Dua peristiwa tersebut tentu bukan satu-satunya pengalaman yang pernah terjadi.

Dalam perjalanan sejarah demokrasi Indonesia, masyarakat juga pernah menyaksikan berbagai bentuk kekerasan terhadap aktivis, termasuk kasus penyiraman air keras pada beberapa tahun sebelumnya, tindakan represif terhadap gerakan kritik, hingga pengalaman penghilangan aktivis pada masa lalu.

Rangkaian pengalaman tersebut membentuk lapisan-lapisan memori sosial yang tidak mudah hilang dari ingatan publik.

Dalam perspektif antropologi kekuasaan, fenomena semacam ini dapat dipahami sebagai proses ketika suatu kejadian aktual membuka kembali lapisan pengalaman kolektif tentang bagaimana kekuasaan pernah berhadapan dengan kritik publik.

Ketika memori semacam itu muncul kembali, kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara dapat dengan cepat terpengaruh.

Bukan semata-mata karena peristiwa kekerasannya, tetapi karena masyarakat dapat melihat kemungkinan adanya pola yang lebih luas di baliknya. Di sinilah pentingnya respons negara.

Pemerintah dan aparat penegak hukum perlu bertindak cepat, terbuka, dan profesional untuk mengusut tuntas setiap kasus kekerasan yang bernuansa intimidasi atau pembungkaman.

Ketegasan negara dalam menegakkan hukum tidak hanya bertujuan menemukan pelaku, tetapi juga memastikan bahwa ruang demokrasi benar-benar terlindungi.

Demokrasi yang sehat tidak hanya diukur dari keberadaan prosedur politik, tetapi juga dari cara negara melindungi kebebasan sipil serta memastikan kekuasaan dijalankan secara transparan, akuntabel, dan terbuka terhadap kritik.

Komitmen terhadap demokrasi karena itu tidak cukup dinyatakan dalam dokumen kebijakan atau retorika politik. Ia harus terlihat dalam cara negara merespons setiap ancaman terhadap kebebasan sipil.

Ketika negara hadir dengan cepat untuk melindungi warga dan menegakkan hukum secara adil, pesan yang disampaikan kepada publik menjadi sangat jelas: bahwa kritik bukanlah ancaman bagi negara, melainkan bagian penting dari kehidupan demokrasi yang sehat.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Jaksa Ajukan Banding atas Vonis 6 Terdakwa Kasus Penyelundupan Sabu 1,9 Ton di Batam, Dinilai Terlalu Ringan
Budaya Hukum Jadi Kunci Kepercayaan pada Polri, Peneliti BRIN: Di Belanda, Masalah Diselesaikan Warga Sebelum Polisi Turun Tangan
Novel Baswedan Kecam Penyiraman Air Keras Terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus, Desak Presiden Prabowo Usut Tuntas: Ini Upaya Membunuh!
Di Bulan Suci Ramadan, 234 SC Percut Sei Tuan Pererat Solidaritas dan Kebersamaan Lewat Berbagi Takjil dan Buka Puasa Bersama
Prabowo Ingatkan Pejabat: Open House Lebaran Jangan Mewah-mewahan
Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS: Yusril Tuding Ada Dalang di Balik Layar
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru