BREAKING NEWS
Minggu, 19 April 2026

Menggugat Kebenaran Agama ‘Refleksi Antropologi Sistem’

BITV Admin - Sabtu, 11 April 2026 18:37 WIB
Menggugat Kebenaran Agama ‘Refleksi Antropologi Sistem’
Mayjen TNI (Purn) Dr. Saurip Kadi. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Oleh: Mayjen TNI (Purn) Dr. Saurip Kadi.

AGAMA dan Budaya selalu aktual sepanjang jaman, karena citra agama untuk menyelamatkan umat manusia, selalu tidak pernah luput dari pranata budaya.

Sementara itu, Budaya secara kontekstual adalah sesuatu yang merupakan "conditio sine qua non"bagi kehidupan manusia yang bermartabat. Sementara itu dalam wacana kehidupan modern, budaya dan realitas sosial selalu menjadi sesuatu yang sangat signifikan dalam usaha mengembangkan kehidupan manusia yang "bertampang" dan berkualitas.

Baca Juga:

Dalam kehidupan nyata, kita menyaksikan berbagai peristiwa yang seakan menyandera perhatian manusia, sepertinya kita telah diborgol dan tengah berada didalam penjara ketidak berdayaan yang diatas-namakan keyakinan dalam beragama.

Hal tersebut terjadi karena kita tidak mampu memahami "teks dalam konteks"yang benar dan tepat terhadap isi Firman (agama apapun) yang umumnya dikemas dengan bahasa perumpamaan dan atau simbol. Akhirnya Firman diposisikan hanyalah sebagai syair (dongeng) belaka, bukan sebagai petunjuk Tuhan.

Dengan kata lain, persoalan yang kita hadapi selama ini bukan pada bunyi text Firman yang tertuang dalam Kitab Suci yang manapun, tapi bagaimana kita bisa memahami makna Firman dengan benar, sehingga agama-agama terus mampu menjawab tuntutan jaman.

Disinilah pentingnya refleksi antropologi sistem, yakni usaha untuk senantiasa menukik ke dalam "tulang sum-sum" persoalan manusia dan masyarakat.

Dan refleksi yang benar haruslah masuk ke dalam inti pemahaman yang tepat mengenai agama di satu pihak, dan pada pihak lain upaya mengkaji dengan cermat "das Sein" dan "das Sollen"dari kebudayaan para bangsa dan peradaban manusia pada umumnya.

Mengenai teks, Plato mengatakan, manusia ibarat sebuah teks yang sulit dipahami, selain harus dipelajari dari jendela filsafat kritis, sebagai teks hendaknya didekati secara lebih spesifik.

Kritis dan spesifik disini tidak saja berkaitan dengan teori (Keilmuan) semata, melainkan "sebuah manajemen" dalam memahami manusia dalam konteks budaya tertentu.

Karena itu, dalam pengalaman hidup keseharian, kata Plato, sebagai teks yang ditulis dengan huruf yang terlampau kecil, sehingga tidak dapat dibaca dengan semestinya. Maka tugas pertama filsafat adalah memperbesar tulisan-tulisan itu agar mudah dibaca dengan lebih cermat dan seterusnya dapat dipahami dengan lebih terang (Ernst Cassirer, An Essay on Man, 1944; Neonbasu Gregor, Sketsa Dasar Mengenal Manusia dan Masyarakat, 2020).

Disanalah, pentingnya manusia dalam memahami ajaran agama (apapun) untuk menggunakan tekhnologi penglihatan seperti "kaca pembesar", agar kesulitan dalam menghadapi teks yang hurufnya terlampau kecil, tidak keluar dari persoalan eksistensial, dalam arti berkat alat bantu kaca pembesar tadi, dia akan mampu membaca huruf yang terlampau kecil dengan benar.

Editor
: Adam
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Di Munas IPSI, Prabowo Serukan Cinta Budaya Lokal dan Ingatkan Bahaya Minder pada Budaya Asing
Seskab Teddy Sebut 96 Juta Warga Lebih Percaya Prabowo, Singgung ‘Inflasi Pengamat’
Habonaron do Bona, Falsafah Simalungun yang Relevan di Tengah Krisis Moral Modern
Intoleransi Beragama Muncul dari Sikap Merasa Paling Benar
Kasad Maruli Terima Kunjungan Wakil Uskup, Perkuat Pembinaan Karakter Prajurit TNI AD
MTQ ke-58 Tanjungbalai Segera Digelar, Wali Kota Minta Semua Pihak Siap
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru