BREAKING NEWS
Minggu, 03 Mei 2026

Hari Buruh dan Tantangan Ekonomi Modern

BITV Admin - Minggu, 03 Mei 2026 07:31 WIB
Hari Buruh dan Tantangan Ekonomi Modern
Presiden Prabowo Subianto mengahadiri secara langsung peringatan Hari Buruh Internasional bersama ribuan pekerja di kawasan Lapangan Silang Monumen Nasional (Monas), Jakarta, pada Jumat, 1 Mei 2026. (foto: BPMI Setpres)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Di Indonesia, misalnya, data menunjukkan bahwa hampir 40% dari penduduk miskin berasal dari kelompok pekerja aktif.

Kondisi ini adalah paradoks ekonomi modern, yaitu bekerja tidak lagi menjamin kesejahteraan.

Salah satu cara memahami kondisi ini adalah melalui konsep upah riil. Secara sederhana, upah nominal adalah jumlah uang yang diterima pekerja, sementara upah riil adalah daya beli dari uang tersebut setelah memperhitungkan inflasi.

Dalam praktiknya, kenaikan gaji tidak selalu berarti peningkatan kesejahteraan. Ketika inflasi lebih tinggi daripada kenaikan upah, maka daya beli pekerja justru menurun.

Contoh sederhana menunjukkan bahwa kenaikan gaji 5% bisa "kalah" oleh inflasi 8%, sehingga pekerja sebenarnya menjadi lebih miskin secara riil.

Fenomena ini menjadi semakin relevan dalam beberapa tahun terakhir, ketika banyak negara menghadapi tekanan inflasi akibat krisis global, gangguan rantai pasok, dan konflik geopolitik.

Di Indonesia sendiri, tuntutan buruh setiap tahun hampir selalu mencakup penyesuaian upah minimum agar sejalan dengan kenaikan biaya hidup.

Dengan kata lain, perjuangan buruh telah bergeser dari "berapa lama bekerja" menjadi "seberapa layak hidup dari hasil kerja".

Jika pada abad ke-19 ancaman utama adalah eksploitasi fisik, maka pada abad ke-21 ancaman terbesar adalah ketidakpastian. Dunia kerja saat ini mengalami transformasi besar akibat teknologi digital.

Otomatisasi, kecerdasan buatan (AI), dan robotika telah mengubah struktur pekerjaan. Banyak pekerjaan manual digantikan oleh mesin, sementara pekerjaan baru muncul dengan tuntutan keterampilan yang lebih tinggi. Di satu sisi, ini membuka peluang. Namun, di sisi lain, kondisi ini menciptakan ketidakstabilan.

PHK massal menjadi fenomena yang semakin sering terjadi, terutama ketika perusahaan melakukan efisiensi berbasis teknologi. Di Indonesia, situasi ini terlihat dari meningkatnya ancaman PHK dan stagnasi pertumbuhan upah dalam beberapa tahun terakhir.

Lebih jauh lagi, munculnya gig economy seperti pengemudi ojek online atau freelancer digital telah mengubah konsep kerja itu sendiri. Pekerjaan menjadi lebih fleksibel, tetapi juga lebih rentan.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Iuran BPJS Kesehatan Bakal Naik? Ini Penjelasan Pemerintah
30 Ribu Lowongan Manajer Kopdes Dibuka, Ternyata Segini Gajinya!
Bahlil: Indonesia Pilih Jalan Sendiri Hadapi Gejolak Energi Global
6 Pelajar Tersangka Kericuhan May Day Bandung Positif Obat-obatan Terlarang
Pengamat Politik: Program MBG Perlu Dikawal, Bukan Dipertentangkan
Sekdaprov Sumut Nilai HIPMI Mitra Strategis Pemerintah: Ekonomi Daerah Kuat Ditopang Wirausaha Muda
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru