Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Beberapa lembaga independen seperti LPEM, CELIOS, dan INDEF secara terbuka mempertanyakan keabsahan perhitungan dan konsistensi sumber pertumbuhan tersebut.
Menariknya, mereka tidak menggunakan data alternatif untuk mengkritik BPS. Kritik justru dibangun menggunakan data resmi BPS sendiri.
LPEM memperkirakan pertumbuhan riil kemungkinan lebih dekat ke kisaran 4,89% dan menilai angka 5,61% berpotensi overestimate.
CELIOS menilai headline GDP tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi masyarakat karena terdapat gap antara pertumbuhan makro dan tekanan ekonomi yang dirasakan rumah tangga.
Sementara INDEF menyebut fenomena ini sebagai "pertumbuhan infus" - ekonomi tumbuh karena suntikan fiskal pemerintah, bukan karena mesin ekonomi bergerak secara organik.
Argumen yang paling banyak mendapat perhatian adalah kontradiksi antara sektor listrik dan manufaktur. Menurut data BPS, sektor listrik, gas, dan air mengalami kontraksi sebesar −0,99%, sementara sektor manufaktur justru tumbuh 5,04%.
Listrik dan energi merupakan pendukung utama produksi manufaktur. Secara umum, ketika konsumsi energi industri melemah, maka output manufaktur juga cenderung melambat.
Dari sinilah muncul dugaan bahwa pertumbuhan manufaktur yang memiliki kotribusi 19% dari PDB mengalami overestimation.
Namun ekonomi modern tidak lagi bekerja secara linear seperti model industri lama.
Intensitas listrik terhadap output terus menurun akibat efisiensi teknologi, digitalisasi produksi, otomasi industri, penggunaan captive power, dan transformasi struktur industri.
Banyak negara mengalami pertumbuhan output manufaktur meskipun konsumsi energinya stagnan atau menurun.
Apalagi pada awal 2025 terdapat diskon tarif listrik, sedangkan pada 2026 kebijakan tersebut tidak lagi berlaku. Ini juga faktor yang membuat pertumbuhan PDB sektor Listrik menurun.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.