BREAKING NEWS
Senin, 18 Mei 2026

Ketika Angka Pertumbuhan Ekonomi Dipertanyakan

BITV Admin - Senin, 18 Mei 2026 07:50 WIB
Ketika Angka Pertumbuhan Ekonomi Dipertanyakan
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Beberapa lembaga independen seperti LPEM, CELIOS, dan INDEF secara terbuka mempertanyakan keabsahan perhitungan dan konsistensi sumber pertumbuhan tersebut.

Menariknya, mereka tidak menggunakan data alternatif untuk mengkritik BPS. Kritik justru dibangun menggunakan data resmi BPS sendiri.

LPEM memperkirakan pertumbuhan riil kemungkinan lebih dekat ke kisaran 4,89% dan menilai angka 5,61% berpotensi overestimate.

CELIOS menilai headline GDP tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi masyarakat karena terdapat gap antara pertumbuhan makro dan tekanan ekonomi yang dirasakan rumah tangga.

Sementara INDEF menyebut fenomena ini sebagai "pertumbuhan infus" - ekonomi tumbuh karena suntikan fiskal pemerintah, bukan karena mesin ekonomi bergerak secara organik.

Argumen yang paling banyak mendapat perhatian adalah kontradiksi antara sektor listrik dan manufaktur. Menurut data BPS, sektor listrik, gas, dan air mengalami kontraksi sebesar −0,99%, sementara sektor manufaktur justru tumbuh 5,04%.

Listrik dan energi merupakan pendukung utama produksi manufaktur. Secara umum, ketika konsumsi energi industri melemah, maka output manufaktur juga cenderung melambat.

Dari sinilah muncul dugaan bahwa pertumbuhan manufaktur yang memiliki kotribusi 19% dari PDB mengalami overestimation.

Namun ekonomi modern tidak lagi bekerja secara linear seperti model industri lama.

Intensitas listrik terhadap output terus menurun akibat efisiensi teknologi, digitalisasi produksi, otomasi industri, penggunaan captive power, dan transformasi struktur industri.

Banyak negara mengalami pertumbuhan output manufaktur meskipun konsumsi energinya stagnan atau menurun.

Apalagi pada awal 2025 terdapat diskon tarif listrik, sedangkan pada 2026 kebijakan tersebut tidak lagi berlaku. Ini juga faktor yang membuat pertumbuhan PDB sektor Listrik menurun.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
99 Persen Wilayah Terdampak Bencana di Sumatera Bersih dari Lumpur, Pemulihan Hampir Tuntas
Ramai Dipertanyakan, Wali Kota Medan Akhirnya Ungkap Alasan ke Luar Negeri
Mengingat Kembali Strategi BJ Habibie dalam Menstabilkan Rupiah di Krisis 1998: Dari Rp 17.000 ke Rp 6.500
Wagub Sumut Sebut HUT ke-154 Jadi Momentum Kota Binjai Naik Kelas Jadi Kota Kompetitif dan Maju
Anies Kritik Program MBG Prabowo, Sebut Pemerintah Harus Percaya pada Rakyat
Tak Hanya Jaga Keamanan, Polri Kini Aktif di Sektor Pertanian: Ini Kata Lemkapi
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru