Sekretaris Disdik Aceh Beri Motivasi 324 Siswa Baru SMAN 7 Banda Aceh di Hari Pertama MPLS
BANDA ACEH Sekretaris Dinas Pendidikan Aceh, Sabri, S.STP, MSP, memberikan motivasi kepada ratusan siswa baru SMAN 7 Banda Aceh dalam ke
PENDIDIKAN
Oleh:Yudi Latif
SAUDARAKU, orang Indonesia tumbuh dengan ajaran lembut: menghormati yang tua, ringan tangan pada tetangga, ramah pada tamu asing.
Kita pandai tersenyum, menjaga perasaan, dan menolong sesama.Baca Juga:
Tetapi ada yang ganjil. Kelembutan itu sering berhenti di pagar rumah dan lingkar kelompok sendiri.
Begitu memasuki ruang publik, wajah kita berubah.
Di jalan orang saling serobot; dalam politik saling jegal; hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas.
Hak publik dirampas, identitas dapat berubah jadi korek api.
Kita hangat dalam hubungan personal, tetapi dingin terhadap kepentingan bersama.
Wajah mendua ini mungkin sebagian merupakan residu kolonialisme: ruang publik dahulu berada di bawah otoritas asing, sementara rakyat pribumi bertahan dalam orbit komunitasnya sendiri, yang kerap berseberangan dengan negara.
Akibatnya, loyalitas kepada kelompok terasa lebih nyata daripada tanggung jawab terhadap ruang publik bersama.
Karena itu kita lebih banyak dididik menjadi "orang baik" dalam komunitas, bukan menjadi warga negara dewasa.
Kesopanan kita komunal, belum sepenuhnya sipil. Kita tahu menjaga perasaan orang yang dikenal, tetapi belum terbiasa menghormati hak orang secara impersonal.
Lahirlah watak sosial yang aneh: santun kepada tamu, tetapi kejam merusak sarana publik; fasih bicara moral, tapi permisif pada rasuah; tekankan kepentingan umum, tapi jabatan menjadi warisan keluarga; ramah dalam percakapan, tetapi ugal-ugalan di jalanan.
Kebaikan masih dipahami sebagai urusan hati, bukan tanggung jawab bersama.
Padahal peradaban dibangun bukan oleh keramahan semata, melainkan oleh disiplin terhadap hukum, aturan, integritas, rasa bersalah dan malu ketika merugikan publik.
Bangsa besar tidak diukur dari kesantunan saat berbicara, melainkan dari ketertiban saat tidak diawasi.
Indonesia tidak kekurangan orang baik. Yang masih kurang adalah warga negara yang sadar bahwa kebaikan pribadi belum tentu melahirkan keadaban publik.
Kita perlu mendidik manusia Indonesia bukan hanya agar sopan, tetapi juga agar beradab dalam ruang publik.
Tanpa keadaban publik, keramahan hanya akan menjadi topeng indah di wajah masyarakat yang diam-diam saling melukai.*
*) Penulis adalahKetua Yayasan Dana Darma Pancasila,Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia,sekaligus cendekiawan muda
BANDA ACEH Sekretaris Dinas Pendidikan Aceh, Sabri, S.STP, MSP, memberikan motivasi kepada ratusan siswa baru SMAN 7 Banda Aceh dalam ke
PENDIDIKAN
JAKARTA Mekanisme pengalihan penanganan perkara dugaan korupsi mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansya
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Harga emas batangan Logam Mulia produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami penurunan pada perdagangan Senin (13/7/2026). Ha
EKONOMI
JAKARTA Harga sejumlah bahan pangan di pasar tradisional pada Senin (13/7/2026) bergerak dengan pola yang beragam. Beberapa komoditas se
EKONOMI
JAKARTA Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan pekan ini. Mata uang Garuda dibuka melemah terhadap dol
EKONOMI
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pesan tegas mengenai pentingnya menjaga persatuan bangsa dan menerima hasil demokrasi den
POLITIK
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto menargetkan Indonesia mampu memproduksi bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin berbasis tanaman dalam k
PERTANIAN AGRIBISNIS
JAKARTA Pemerintah terus mendorong perluasan peran koperasi agar tidak hanya bergerak di sektor simpan pinjam dan perdagangan, tetapi ju
EKONOMI
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto menegaskan keyakinannya bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk bangkit dan menjadi negara yang s
NASIONAL
JAKARTA Persaingan ponsel pintar di kelas harga Rp1 jutaan semakin ketat pada 2026. Jika sebelumnya pengguna harus berkompromi dengan sp
SAINS DAN TEKNOLOGI