Panglima TNI Tekankan Alumni Taruna Nusantara Harus Adaptif Hadapi AI dan Geopolitik Global
MAGELANG Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto meminta para alumni SMA Taruna Nusantara untuk terus meningkatkan kapasitas diri agar ma
NASIONAL
Oleh:Dony Karno
DI negeri yang begitu sering berbicara tentang persatuan, ada satu ironi yang diam-diam tumbuh seperti lumut di dinding kebangsaan kita, sebagian orang masih merasa berhak menghina manusia lain hanya karena warna kulitnya, rambutnya, atau asal-usulnya.
Dan setiap kali saya melihat Natalius Pigai dihantam hinaan rasis, saya selalu sampai pada pertanyaan yang sama: "Pigai, hatimu terbuat dari apa?"Baca Juga:
Sebab tidak mudah menjadi manusia yang terus-menerus dihujani kebencian, lalu tetap berdiri tanpa kehilangan akal sehat dan kemanusiaannya.
idak mudah hidup di ruang publik ketika orang tidak lagi menyerang pikiranmu, melainkan eksistensimu sebagai manusia.
Rasisme adalah bentuk penghinaan paling purba. Ia tidak peduli siapa dirimu, apa pencapaianmu, seberapa keras perjuanganmu.
Ia hanya ingin mengatakan satu hal yang kejam, "Kau tidak layak dihormati karena kau terlahir berbeda."
Dan betapa menyedihkan, kalimat semacam itu masih hidup di republik yang katanya berdiri di atas kemanusiaan.
Tetapi ada sesuatu yang menarik dari Pigai. Semakin ia dihina, semakin terlihat bahwa yang rapuh bukan dirinya, melainkan mereka yang membencinya.
Karena manusia yang kuat secara moral tidak membutuhkan penghinaan untuk merasa besar.
Hanya mereka yang memiliki jiwa kecil, yang sibuk merendahkan orang lain demi menutupi kekosongan dalam dirinya sendiri.
Orang-orang mungkin berpikir bahwa kata-kata kasar di media sosial dapat menjatuhkan Pigai.
Salah besar. Mereka lupa: seseorang yang sudah lama hidup bersama luka biasanya belajar menjadi lebih tahan terhadap badai.
Orang Papua telah terlalu lama akrab dengan stereotip, curiga, dan penghinaan.
Dan mungkin karena itulah Pigai tampak seperti batu karang, dihantam ombak berkali-kali tetapi tetap berdiri.
"Pigai tidak akan tumbang karena rasisme."
Sebab rasisme hanya mampu melukai permukaan, tetapi tidak pernah cukup kuat untuk menghancurkan manusia yang sudah berdamai dengan dirinya sendiri.
Yang hancur justru para pembenci itu. Sedikit demi sedikit.
Karena setiap kebencian yang dilemparkan kepada orang lain sesungguhnya sedang memperlihatkan kerusakan batin si pelempar.
Setiap hinaan rasial bukan cermin bagi korban, tetapi cermin bagi pelaku.
Dari sana kita melihat betapa miskinnya empati, betapa rapuhnya moral, dan betapa dangkalnya cara sebagian orang memahami kemanusiaan.
Pigai mungkin dicaci. Tetapi cacian tidak pernah otomatis membuat seseorang hina.
Ada satu pepatah sederhana yang terasa begitu tepat, dicaci tak akan masuk kotak sampah, dipuji tak akan jadi rembulan.
Manusia tidak menjadi kotor hanya karena dihina. Dan manusia tidak otomatis mulia hanya karena dipuji.
Nilai seseorang tidak ditentukan oleh riuh komentar publik, melainkan oleh kualitas moral yang ia pegang ketika menghadapi hidup.
Dan sejauh ini, "justru Pigai yang memperlihatkan ketahanan moral itu." Ia tetap bicara. Tetap hadir. Tetap melawan gagasan dengan gagasan.
Sementara sebagian orang memilih bersembunyi di balik anonimitas media sosial untuk melempar penghinaan rasial yang bahkan tidak membutuhkan keberanian intelektual sedikit pun.
Kadang saya berpikir, mungkin kekuatan terbesar bukanlah kemampuan membalas kebencian, tetapi kemampuan untuk tidak berubah menjadi pembenci meski terus disakiti.
Dan di situlah Pigai tampak lebih kuat daripada banyak orang.
Karena kebencian selalu ingin menular. Ia berharap orang yang dihina akan ikut menjadi pahit, marah, dan kehilangan kemanusiaannya.
Tetapi ketika seseorang tetap bertahan dengan martabatnya, tetap memilih tenang, tetap memilih melanjutkan hidup tanpa tenggelam dalam dendam, di situlah kebencian sebenarnya kalah.
Kindness always wins. Kebaikan mungkin tidak selalu menang cepat. Kadang ia tampak sunyi, kalah ramai dibanding kebencian, tetapi pada waktunya AKAN MENANG.
Tetapi sejarah selalu membuktikan, manusia dikenang bukan karena seberapa keras ia membenci, melainkan seberapa besar ia menjaga kemanusiaannya ketika dunia berlaku tidak adil padanya. Dan mungkin itulah yang sedang terjadi pada Pigai.
Orang-orang boleh terus menghina warna kulitnya, tetapi mereka tidak pernah berhasil menggelapkan pikirannya.
"Mereka boleh menyerang wajahnya, tetapi tidak mampu meruntuhkan keberaniannya."
Sebab yang membuat seseorang tegak bukan warna kulit, melainkan kekuatan moralnya.
Sementara mereka yang sibuk menyebar rasisme sebenarnya sedang memperlihatkan satu hal yang menyedihkan: betapa rapuh isi hati mereka sendiri.
Karena manusia yang berdamai dengan dirinya tidak punya kebutuhan untuk merendahkan manusia lain.
Maka pada akhirnya, pertanyaan "Pigai, hatimu terbuat dari apa?" mungkin tidak lagi terdengar sebagai rasa iba. Ia berubah menjadi kekaguman.
Kagum karena di tengah begitu banyak penghinaan, ia tetap kokoh berdiri sebagai manusia.
Dan lebih dari itu, ia tetap memilih tidak kehilangan kemanusiaannya.* (news.detik.com)
*) Penulis adalah Pegiat Kemanusiaan Masyarakat Desa
MAGELANG Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto meminta para alumni SMA Taruna Nusantara untuk terus meningkatkan kapasitas diri agar ma
NASIONAL
MEDAN Satreskrim Polrestabes Medan mengungkap modus penjualan ratusan sepeda motor tanpa dokumen resmi yang ditemukan di delapan gudang
HUKUM DAN KRIMINAL
BATU BARA Aksi kekerasan yang diduga dilakukan oleh sekelompok pemuda bersenjata tajam menggemparkan warga Kecamatan Tanjung Tiram, Kabu
PERISTIWA
JAKARTA Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto mengajak generasi muda Indonesia untuk terus meningkatkan kualitas dan kapasitas d
NASIONAL
CIREBON Seorang mantan calon anggota legislatif (caleg) di Kota Cirebon berinisial H (43) diduga melakukan pemerasan dan eksploitasi sek
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Pemerintah Indonesia memperketat kewaspadaan di seluruh pintu masuk negara menyusul penetapan wabah Ebola di Republik Demokratik
KESEHATAN
JAKARTA Pemerintah kini memiliki kewenangan untuk membekukan atau menangguhkan ekspor minyak bumi hasil produksi dalam negeri apabila kond
EKONOMI
JAKARTA Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat Buddha untuk terus memperkuat nilai toleransi, persaudaraan, welas asih, serta kontr
NASIONAL
JAKARTA Sejumlah harga komoditas pangan mengalami kenaikan usai libur panjang Iduladha pada akhir pekan ini. Kenaikan terutama terjadi p
EKONOMI
JAKARTA Kuasa hukum PT Putraprima Mineral Mandiri (PMM), Poltak Silitonga, membantah tudingan bahwa perusahaannya tidak kooperatif dalam
HUKUM DAN KRIMINAL