Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Ketika janji "19 juta lapangan kerja" dideklarasikan selama masa kampanye, publik menangkapnya sebagai janji yang dijamin oleh negara melalui pemerintahan yang akan terpilih.
Oleh sebab itu, sah-sah saja jika masyarakat menagih realisasinya kepada pemerintahan saat ini secara kolektif, bukan secara sepihak.
Upaya untuk memecah-mecah janji, seolah-olah bisa dipilih, diklaim, atau dibuang sesuai dengan keberhasilan atau kegagalannya, justru berpotensi mengaburkan akuntabilitas yang seharusnya dipertanggungjawabkan bersama.
Ketika seorang tokoh politik mulai melabeli janji tersebut sebagai milik salah satu pihak, ia secara tidak langsung sedang mencoba memisahkan pemerintahan dari beban moral yang telah mereka janjikan sendiri kepada rakyat.
Lantas, kita perlu merenung, apakah narasi pemilahan janji ini merupakan strategi komunikasi politik untuk menjaga citra, atau justru cerminan dari rapuhnya perencanaan program kerja sejak awal?
Jika janji dianggap tidak logis oleh para pemangku kebijakan atau pihak yang menjadi penasihat pemerintah itu sendiri, hal yang paling bijak tentu bukan melakukan cuci tangan atau melempar beban tanggung jawab ke salah satu pihak.
Sebaliknya, yang dibutuhkan publik adalah evaluasi jujur dan transparansi mengenai apa yang bisa dan tidak bisa dicapai oleh pemerintah.
Masyarakat sesungguhnya jauh lebih dewasa daripada yang dibayangkan para politisi.
Mereka mampu menerima kenyataan pahit selama penjelasan yang diberikan masuk akal dan disampaikan secara terbuka.
Kejujuran mengenai keterbatasan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah awal untuk membangun kepercayaan, modal sosial yang tidak bisa dicetak seperti uang atau dibeli dengan APBN.
Menjaga Amanah, Melampaui Perdebatan
Evaluasi yang jujur menjadi sangat mendesak mengingat situasi ekonomi saat ini sedang menantang.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.