Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Pertanyaan PDIP itu sebenarnya mengenai sesuatu yang lebih penting dari sekadar soal kesediaan Prabowo.
Ia mengenai kejanggalan yang selama ini tidak banyak disuarakan.
Jika memang ada partai yang paling layak membicarakan dua periode, bukankah itu semestinya Gerindra, sebagai partai presiden, sebagai kekuatan utama di lingkaran istana?
Bukan mantan presiden yang sudah purnatugas, yang berbicara seolah masih memegang kendali.
Bahwa Jokowi-lah yang paling lantang menyuarakan ini, sementara Gerindra memilih diam, justru mengungkapkan sesuatu yang tidak diucapkan, bahwa ada yang sedang mencoba mendikte, dan ada yang sedang mempertimbangkan apakah perlu dituruti atau tidak.
Kecuali PDIP, semuanya tampak hati-hati, tidak menolak, tidak pula mengiyakan sepenuhnya, sikap yang dalam tradisi politik kita sudah sangat kita kenali: diam adalah cara paling aman untuk tetap dekat dengan kekuasaan.
Pemerintahan Prabowo-Gibran baru berjalan dua tahun. Janji 19 juta lapangan kerja dalam lima tahun masih menggantung.
Data BKPM mencatat penyerapan tenaga kerja dari investasi sepanjang 2025 baru menyentuh sekitar 2,7 juta orang.
Jumlah pengangguran justru bertambah dari 7,20 juta pada 2024 menjadi 7,28 juta pada awal 2025.
Daya beli tergerus. Harga kebutuhan pokok tidak kunjung turun.
Di tengah semua itu, energi publik justru tersedot oleh wacana periode kedua yang bahkan belum waktunya untuk dibicarakan.
Membaca data dan dramaturgi pecaturan kuasa ini, menggurat manuver ini paling terasa.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.