Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Ketika pekerjaan nyata sedang menunggu, yang hadir justru penataan kursi untuk masa depan yang belum tiba.
Levitsky dan Ziblatt dalam How Democracies Die mencatat, kemunduran demokrasi jarang terjadi melalui kudeta yang dramatis.
Ia berlangsung perlahan, melalui tangan-tangan yang pernah dipilih rakyat, yang kemudian menggunakan legitimasi itu untuk menggeser batas demi batas.
Dalam konteka itu, yang berbahaya adalah mereka yang mengemas pengendalian itu dalam bahasa yang terdengar wajar, bahkan patriotik.
Keberlanjutan. Stabilitas. Amanah. Kata-kata itu tidak salah.
Yang salah adalah ketika ia dipakai untuk menutup pertanyaan kritis publik.
Di balik narasi keberlanjutan itu ada hal lain yang tidak banyak dibicarakan.
Pengamat politik Ray Rangkuti menyebut hubungan Jokowi dan Prabowo sudah retak, meski belum terbelah.
Proyek-proyek mercusuar era Jokowi mulai dikuliti. Reshuffle kabinet menyisihkan sejumlah nama yang dikenal dekat dengan Jokowi.
Dalam situasi seperti itu, safari politik Jokowi sambil menggaungkan dua periode bisa dibaca bukan semata sebagai dukungan kepada Prabowo, tetapi sebagai cara memastikan posisi dan pengaruhnya tetap diperhitungkan.
Gibran, yang kini duduk sebagai wakil presiden, adalah jangkar yang membuat tali itu tidak bisa benar-benar dilepas.
Franz Magnis-Suseno dalam Etika Politik mengingatkan, legitimasi kekuasaan bertumpu pada kepercayaan moral yang tumbuh dari konsistensi antara ucapan dan tindakan.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.