Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Oleh:Benediktus Hestu Cipto Handoyo
DINAMIKA perpolitikan nasional belakangan ini kembali bergejolak hebat di berbagai ruang publik setelah temuan angka statistik dirilis secara terbuka oleh lembaga riset Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).
Berdasarkan paparan data yang diulas secara mendalam oleh berbagai media massa, tercatat hanya ada sekitar 13,5 persen bagian dari masyarakat yang memandang kondisi perpolitikan di bawah kendali pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berada dalam koridor baik atau sangat baik.
Baca Juga:
Sebaliknya, 42,8 persen publik menilai situasi politik nasional dalam kategori buruk atau bahkan sangat buruk.
Angka ini seolah menjadi lonceng peringatan dini yang sangat keras bagi stabilitas kekuasaan yang sedang berjalan, mengingat sisa persentase lainnya terbagi pada pandangan sedang-sedang saja hingga kelompok masyarakat yang memilih bungkam atau menyatakan tidak tahu secara pasti.
Jika ditarik lebih jauh ke belakang melalui pembacaan lini masa data sebelumnya, tren penurunan keyakinan publik ini bukanlah ketidaksengajaan yang datang tiba-tiba dalam semalam.
Pada fase akhir tahun, tepatnya November 2025, catatan positif mengenai iklim politik sempat berada di angka 35,8 persen yang menunjukkan adanya secercah harapan awal kepemimpinan.
Namun, memasuki awal kuartal pertama tahun 2026, angka tersebut merosot drastis ke level 27,1 persen, sebelum akhirnya terjun bebas menyentuh titik terendah 13,5 persen pada pertengahan tahun ini.
Perubahan posisi psikologis massal ini memperlihatkan adanya pergeseran cara pandang warga negara yang masif, di mana mayoritas suara saat ini justru mendominasi kutub negatif.
Gejala semacam ini mengindikasikan bahwa relasi antara penguasa dan rakyat sedang mengalami keretakan komunikasi yang cukup parah di tingkat akar rumput tanpa adanya penanganan taktis yang efektif dari para pemangku kebijakan.
Kemerosotan Kepercayaan
Fenomena penurunan angka secara konsisten ini mencerminkan adanya akumulasi kekecewaan yang telah lama terpendam di dalam benak masyarakat luas akibat berbagai kebijakan yang dinilai kurang menyentuh substansi permasalahan hidup sehari-hari.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.