BREAKING NEWS
Selasa, 28 Juli 2026

Rapor Merah Politik

Redaksi - Selasa, 28 Juli 2026 10:01 WIB
Rapor Merah Politik
Taklimat Presiden Prabowo pada Sidang Kabinet Paripurna, Istana Negara, 20 Juli 2026. (foto: Setpres/yt)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Jika tren penurunan kepercayaan ini terus dibiarkan tanpa adanya evaluasi total serta perombakan orientasi kebijakan yang secara nyata berpihak kepada kepentingan publik, dikhawatirkan jurang pemisah antara negara dan warganya akan semakin melebar secara permanen.

Evaluasi total ini mencakup perombakan cara pandang para pengambil kebijakan dalam melihat persoalan rakyat, dari yang selama ini bersifat top-down dan birokratis menjadi lebih bottom-up serta partisipatif.

Para elite politik harus menyadari bahwa kekuasaan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana pengabdian untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagaimana yang termaktub dalam dasar negara.

Tanpa adanya keberanian moral untuk melakukan koreksi total atas arah kebijakan yang sedang berjalan, rezim yang berkuasa hanya akan berjalan di atas fondasi yang rapuh dan sewaktu-waktu dapat runtuh diterjang gelombang ketidakpuasan rakyat yang semakin masif.

Sebagai sebuah proyeksi analitis atas situasi tersebut, esensi persoalan ini memunculkan sebuah titik pandang baru yang sangat krusial untuk dicermati secara saksama oleh para pengamat dan pengambil kebijakan.

Stabilitas politik di era kontemporer tidak lagi ditentukan oleh kekuatan hegemoni koalisi elite di tingkat pusat, melainkan sangat bergantung pada ketahanan psikologis ruang publik dalam memverifikasi keadilan distributif yang dirasakan secara otonom oleh warga negara setiap hari.

Ketika negara mampu menghadirkan keadilan yang nyata dan dirasakan langsung oleh seluruh rakyat tanpa diskriminasi, maka stabilitas politik akan dengan sendirinya terbangun secara kokoh di atas fondasi kepercayaan yang tulus dan berkelanjutan.

Sebaliknya, apabila keadilan distributif tersebut hanya menjadi jargon kosong tanpa implementasi di lapangan, maka segala bentuk rekayasa politik dan penguatan koalisi di parlemen tidak akan mampu menyelamatkan rezim dari krisis legitimasi yang berujung pada keruntuhan kepercayaan massal.

Titik pandang baru ini memberikan arah bagi masa depan tata kelola pemerintahan yang lebih demokratis.

Suara rakyat dan kesejahteraan material ditempatkan sebagai tolok utama keberhasilan kepemimpinan nasional di tengah kompleksitas tantangan global yang terus menerus berubah dari waktu ke waktu.*(nasional.kompas.com)


*) Penulis adalah Dosen Hukum Tata Negara dan Legislatif Drafting, Ketua Tim Ahli Cagar Budaya DIY, Direktir Eksekutif Parliament Watch Yogyakarta, Advokat pada Kantor Hukum BEN LAW OFFICE dan Calon Hakim Mahkamah Konstitusi Periode Seleksi tahun 2000

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Rupiah Kembali Melemah, Tembus Rp18.068 per Dolar AS di Awal Perdagangan
IHSG Menguat ke Level 6.187,  Ini Daftar Saham yang Naik dan Turun
Emas Antam Turun Lagi! Ini Daftar Harga Lengkap Terbaru 28 Juli 2026
Mulai Pekan Depan, Publik Bisa Pantau Menu MBG Secara Online
Butuh Modal Usaha? KUR Mandiri 2026 Tawarkan Pinjaman Hingga Rp100 Juta, Cicilan Mulai Rp2 Jutaan per Bulan
Warga Tak Perlu Lagi ke Kisaran, Pemkab Asahan Resmikan Layanan Administrasi Kependudukan di Kantor Camat Aek Kuasan
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru