Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Jika tren penurunan kepercayaan ini terus dibiarkan tanpa adanya evaluasi total serta perombakan orientasi kebijakan yang secara nyata berpihak kepada kepentingan publik, dikhawatirkan jurang pemisah antara negara dan warganya akan semakin melebar secara permanen.
Evaluasi total ini mencakup perombakan cara pandang para pengambil kebijakan dalam melihat persoalan rakyat, dari yang selama ini bersifat top-down dan birokratis menjadi lebih bottom-up serta partisipatif.
Para elite politik harus menyadari bahwa kekuasaan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana pengabdian untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagaimana yang termaktub dalam dasar negara.
Tanpa adanya keberanian moral untuk melakukan koreksi total atas arah kebijakan yang sedang berjalan, rezim yang berkuasa hanya akan berjalan di atas fondasi yang rapuh dan sewaktu-waktu dapat runtuh diterjang gelombang ketidakpuasan rakyat yang semakin masif.
Sebagai sebuah proyeksi analitis atas situasi tersebut, esensi persoalan ini memunculkan sebuah titik pandang baru yang sangat krusial untuk dicermati secara saksama oleh para pengamat dan pengambil kebijakan.
Stabilitas politik di era kontemporer tidak lagi ditentukan oleh kekuatan hegemoni koalisi elite di tingkat pusat, melainkan sangat bergantung pada ketahanan psikologis ruang publik dalam memverifikasi keadilan distributif yang dirasakan secara otonom oleh warga negara setiap hari.
Ketika negara mampu menghadirkan keadilan yang nyata dan dirasakan langsung oleh seluruh rakyat tanpa diskriminasi, maka stabilitas politik akan dengan sendirinya terbangun secara kokoh di atas fondasi kepercayaan yang tulus dan berkelanjutan.
Sebaliknya, apabila keadilan distributif tersebut hanya menjadi jargon kosong tanpa implementasi di lapangan, maka segala bentuk rekayasa politik dan penguatan koalisi di parlemen tidak akan mampu menyelamatkan rezim dari krisis legitimasi yang berujung pada keruntuhan kepercayaan massal.
Titik pandang baru ini memberikan arah bagi masa depan tata kelola pemerintahan yang lebih demokratis.
Suara rakyat dan kesejahteraan material ditempatkan sebagai tolok utama keberhasilan kepemimpinan nasional di tengah kompleksitas tantangan global yang terus menerus berubah dari waktu ke waktu.*(nasional.kompas.com)
*) Penulis adalah Dosen Hukum Tata Negara dan Legislatif Drafting, Ketua Tim Ahli Cagar Budaya DIY, Direktir Eksekutif Parliament Watch Yogyakarta, Advokat pada Kantor Hukum BEN LAW OFFICE dan Calon Hakim Mahkamah Konstitusi Periode Seleksi tahun 2000
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.