BREAKING NEWS
Sabtu, 03 Oktober 2026

Rocky Gerung Jadi Wantimpres, Mungkinkah Jadi "Good Boy"?

Adelia Syafitri - Sabtu, 03 Oktober 2026 16:24 WIB
Rocky Gerung Jadi Wantimpres, Mungkinkah Jadi "Good Boy"?
Rocky Gerung usai dilantik sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Jumat (2/10/2026). (foto: Setpres/yt)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Oleh:Ija Suntana

SECARA sederhana, nasihat dan kritik sering kali diperlakukan sebagai sesuatu yang sama.

Namun, secara epistemik, moral, dan praktis, nasihat dan kritik berdiri di atas fondasi yang sangat berbeda.

Baca Juga:

Nasihat lahir dari orientasi perbaikan. Sedangkan, kritik lahir dari orientasi penilaian. Perbedaan ini penting karena menentukan arah suatu percakapan.

Nasihat bertanya, "Bagaimana keadaan ini bisa menjadi lebih baik?" Sedangkan kritik bertanya, "Apa yang salah dari keadaan ini?"

Keduanya tidak selalu bertentangan, tetapi keduanya tidak identik.

Kata kritik berasal dari bahasa Yunani kritikos, yang berarti "mampu menilai", "mampu membedakan", atau "mampu menghakimi".

Akar katanya adalah krinein, yang berarti memisahkan, membedakan, memutuskan, atau mengadili.

Dari akar kata ini lahir berbagai istilah seperti criterion (kriteria), crisis (krisis yang menuntut keputusan), dan critique.

Sejak awal kemunculannya, kritik memang tidak dirancang untuk membangun jalan keluar.

Kritik dirancang untuk melakukan pembedaan antara yang dianggap benar dan yang dianggap salah, antara yang dianggap baik dan yang dianggap buruk.

Kritik adalah instrumen evaluasi. Ia bekerja seperti pisau analisis yang membedah suatu keadaan agar kelemahannya terlihat.

Karena itu, seorang kritikus pada hakikatnya adalah pembuat daftar kekeliruan.

Ia menginventarisasi cacat, menunjukkan kontradiksi, mengungkap inkonsistensi, dan menyoroti penyimpangan.

Semakin tajam seorang kritikus, semakin rinci pula daftar kesalahan yang dapat ia tunjukkan. Di sinilah nasihat memiliki karakter berbeda.

Kata nasihat berasal dari bahasa Arab, al-nushu, yang arti aslinya adalah memurnikan sesuatu dari campuran yang membuatnya tidak asli.

Nasihat tidak berangkat dari hasrat menghakimi, melainkan dari dorongan memperbaiki.

Seorang pemberi nasihat mungkin melihat kesalahan yang sama dengan seorang kritikus, tetapi ia tidak berhenti pada kesalahan tersebut.

Ia bergerak selangkah lebih jauh dengan menunjukkan kemungkinan solusi. Nasihat selalu memiliki orientasi masa depan.

Ia tidak sekadar memotret kegagalan masa lalu, tetapi berusaha membuka jalan menuju keadaan yang lebih baik.

Karena itu, unsur utama nasihat bukanlah identifikasi kesalahan, melainkan tawaran tindakan. Kritik berkata, "Ini salah," dan berhenti di situ.

Nasihat berkata, "Ini salah, dan inilah yang dapat dilakukan agar menjadi benar."

Kritik berkata, "Sistem ini bermasalah." Nasihat berkata, "Sistem ini bermasalah, dan berikut langkah yang dapat ditempuh untuk memperbaikinya."

Perbedaan tersebut tampak sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Kritik dapat menghasilkan kesadaran. Nasihat menghasilkan arah.

Kritik dapat membangunkan orang dari tidur panjangnya. Nasihat menunjukkan ke mana ia harus berjalan—ke toilet atau ke dapaur- setelah bangun.

Masyarakat modern sering mengalami paradoks. Kritik berlimpah, tetapi solusi langka. Ruang publik dipenuhi komentar, penilaian, kecaman, dan daftar kesalahan.

Setiap orang mampu menunjukkan apa yang tidak beres. Namun, sedikit orang yang mampu menyusun peta perbaikan yang realistis.

Dalam kondisi demikian, kritik menjadi mudah, sedangkan nasihat menjadi sulit. Kritik hanya membutuhkan kemampuan melihat kesalahan.

Nasihat membutuhkan kemampuan melihat kesalahan sekaligus memahami jalan keluar. Kritik cukup mengandalkan kecerdasan analitis.

Nasihat menuntut kecerdasan analitis sekaligus kebijaksanaan praktis. Itulah sebabnya tidak setiap kritikus adalah penasihat.

Seseorang bisa sangat piawai menemukan seratus kesalahan tanpa mampu memperbaiki satu pun di antaranya.

Sebaliknya, seorang penasihat yang baik tidak hanya memahami apa yang salah, tetapi juga memahami apa yang harus dilakukan setelah kesalahan itu ditemukan.

Keduanya tentu berguna, hanya memiliki fungsi berbeda. Kritik membantu manusia melihat kenyataan apa adanya.

Nasihat membantu manusia mengubah kenyataan menjadi lebih baik. Kritik menunjukkan jalan berlubang.

Nasihat menunjukkan cara menutupnya. Kritik mengidentifikasi masalah. Nasihat menggerakkan penyelesaian.

Akan Bagaimana Rocky Gerung?

Saya pikir akan ada perubahan psikologis yang tidak kecil ketika Rocky Gerung berpindah posisi dari pengkritik menjadi penasihat.

Ia kini menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Perubahan itu bukan sekadar pergantian peran, melainkan pergantian paradigma dalam memandang masalah.

Ketika berada di luar sistem, Rocky memiliki kemewahan intelektual yang tidak dimiliki oleh seorang penasihat.

Ia bebas menunjuk kesalahan tanpa harus memikul konsekuensi dari solusi yang ditawarkan.

Ia dapat mengidentifikasi kekurangan, menginventarisasi kegagalan, bahkan membangun argumentasi yang sangat tajam mengenai mengapa suatu kebijakan, organisasi, atau kepemimpinan mengalami kegagalan.

Sebelumnya, Rocky tidak harus menghitung biaya politik. Ia tidak harus mempertimbangkan keterbatasan anggaran. Ia tidak harus menghadapi resistensi birokrasi.

Ia juga tidak harus menanggung risiko jika gagasannya ternyata gagal dijalankan. Namun, keadaan akan berubah ketika Rocky masuk ke dalam ruang penasihat.

Di saat itu, ukuran keberhasilannya tidak lagi ditentukan oleh ketajaman menemukan kesalahan, melainkan oleh kemampuannya menghadirkan jalan keluar yang dapat dikerjakan.

Ia tidak lagi dinilai berdasarkan jumlah masalah yang berhasil diungkap, tetapi berdasarkan jumlah masalah yang berhasil diselesaikan.

Jika dahulu Rocky berkata, "Ini salah!", kini ia harus bertanya, "Ini yang mungkin dilakukan."

Jika dahulu ia melihat dunia dalam kategori ideal dan tidak ideal, kini ia harus berhadapan dengan kategori yang lebih rumit: mungkin dan tidak mungkin, realistis dan tidak realistis, prioritas dan non-prioritas.

Dulu, Rocky berkata bahwa birokrasi lamban.

Namun, ketika masuk sebagai penasihat, ia mulai melihat adanya keterbatasan regulasi, keterbatasan sumber daya manusia, keterbatasan anggaran, hingga konflik kepentingan antarlembaga.

Masalah yang sebelumnya terlihat seperti garis lurus ternyata merupakan simpul yang saling terikat.

Perubahan posisi Rocky saya pikir akan memaksa dia meninggalkan kemewahan simplifikasi.

Ia tidak lagi dapat memandang persoalan hanya dari satu sisi. Ia akan melihat seluruh variabel yang bekerja secara bersamaan.

Saya sendiri tidak terlalu yakin, apakah tulisan ini sedang menasihati Rocky Sang Pengkritik yang naik kelas menjadi penasihat, atau justru sedang mengkritik dia.

Mungkin sedikit keduanya. Sebab, dunia tidak sesederhana kolom opini.

Selamat bertugas, Pak Rocky...*(nasional.kompas.com)


*) Penulis adalah Dosen, Pengajar pada Program Studi Hukum Tata Negara UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Editor
: Administrator
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Wantimpres dan Bisikan di Balik Pintu Istana
Masuk Lingkaran Istana, Sikap Kritis Rocky Gerung Disorot Tajam Kader PSI Sentil Wajah Asli Politik
Bukan Mengkritik tapi Kritis Penjelasan Menohok Rocky Gerung Usai Jabat Anggota Wantimpres Prabowo
Kantongi Gaji Rp76,5 Juta per Bulan, Segini Total Beban APBN untuk Bayar 26 Anggota Wantimpres Pilihan Prabowo
Rocky Gerung Dipangku Kekuasaan
Kenang Masa Lalu Pernah Dipecat, Bobby Nasution Tegaskan Gerindra Jadi Pelabuhan Terakhir dalam Karier Politiknya
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru