Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Oleh: Yakub F. Ismail
Seperti malam biasanya. Jakarta dengan segemerlap cahaya dan kebisingan tanpa henti tiba-tiba berubah menjadi letupan amarah.
Bermula dari bunyi petasan di tengah malam yang mungkin terdengar biasa karena kebisingan sudah menjadi hal lumrah di ibu kota.
Baca Juga:
Namun, anggapan sepele ini justru menjadi sebuah titik awal yang berujung pada persoalan yang lebih serius.
Bagaimana tidak, suara yang tadinya dianggap biasa itu nyatanya ada yang merasa terusik.
Letupan kemeriahan yang tak disangka-sangka itu justru membuat seorang anak mengalami tremor, lalu berujung pada perselisihan yang makin memanas.
Persoalan ini bermula saat seorang perempuan paruh baya bernama Amanda Andono, bersama dua warga Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan memprotes bunyi petasan yang diduga bersumber dari perayaan kegiatan keagamaan.
Aksi protes itu dilakukan lantaran dinilai mengganggu ketenangan dan kenyamanan warga, mengingat kejadiannya yang berlangsung tengah malam, tepat di saat warga sedang bersitirahat malam.
Dari masalah petasan yang berujung perselisihan panjang, ada satu hal penting yang patut direfleksikan bahwa mengelola Jakarta bukan hanya tentang menata jalan, banjir, sampah, ataupun moda transportasi publik.
Sebaliknya, ada persolan yang jauh lebih penting yang terkadang luput dari perhatian para pemangku kebijakan, yakni mengelola isu-isu yang lebih sensitif, seperti menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat yang sangat beragam.
Dari pengalaman kita banyak belajar bahwa persoalan yang bersinggungan dengan kegiatan keagamaan kerap memicu permasalahan yang lebih serius.
Jika permasalahan tersebut gagal diselesaikan di tingkat bawah, maka ia berpotensi menggelinding menjadi bola liar yang membawa banyak dampak negatif.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.