Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
SUBULUSSALAM — Penanganan pendidikan pascabanjir bandang di Aceh menuntut kebijakan luar biasa dan adaptif, tidak bisa mengandalkan prosedur reguler.
Pernyataan ini disampaikan Ketua Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) PWM Aceh, Dr. Iskandar Muda Hasibuan, saat kunjungan rombongan Kemendikdasmen di Subulussalam, Jumat (19 Desember 2025).
Menurut Iskandar, banjir bandang menimbulkan dampak serius berlapis terhadap sektor pendidikan.
Baca Juga:
Selain kerusakan fisik pada sarana dan prasarana sekolah, bencana mengganggu proses belajar-mengajar dan kondisi psikologis peserta didik serta tenaga pendidik.
Jika tidak ditangani cepat, kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia Aceh.
"Dalam kondisi yang tidak normal, negara dan pemerintah daerah dituntut untuk mengambil langkah yang juga tidak normal dalam arti positif, yakni kebijakan yang bersifat luar biasa dan adaptif," kata Iskandar.
Iskandar menekankan bahwa pengalaman berbagai negara menunjukkan prinsip konsisten: pendidikan harus menjadi bagian integral dari respons darurat, bukan menunggu fase rehabilitasi selesai.
Pendidikan yang segera berjalan membantu menjaga stabilitas psikologis anak, memperkuat ketahanan sosial masyarakat, dan mencegah terputusnya proses belajar.
Pendekatan ini relevan untuk Aceh, mengingat gangguan pembelajaran yang berkepanjangan dapat menyebabkan learning loss, meningkatnya angka putus sekolah, dan melemahkan kapasitas generasi muda di masa depan.
Iskandar mendorong pemerintah pusat dan daerah menetapkan Status Pendidikan Darurat di wilayah terdampak banjir bandang.
Status ini menjadi dasar hukum bagi percepatan pengambilan kebijakan, fleksibilitas penganggaran, serta penyesuaian strategi pendidikan sesuai kondisi lapangan.
Langkah konkret yang perlu segera dilakukan antara lain:
- Penyederhanaan kurikulum dengan fokus pada kompetensi esensial
- Pembelajaran adaptif melalui ruang belajar sementara atau berbasis komunitas
- Percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi sekolah dengan prinsip build back better
Iskandar menegaskan, keterlambatan pemulihan pendidikan berisiko menimbulkan kerugian strategis jangka panjang.
Hilangnya waktu belajar, gangguan psikososial, dan meningkatnya risiko putus sekolah harus diantisipasi melalui langkah cepat, terukur, dan koordinasi lintas sektor.
"Setiap hari keterhentian pembelajaran adalah kerugian strategis bagi masa depan anak-anak Aceh. Pemulihan pendidikan harus menjadi prioritas kebijakan," tegasnya.
Pemulihan pendidikan pascabencana bukan sekadar urusan teknis, tetapi investasi jangka panjang bagi ketahanan Aceh.
Keberanian mengambil kebijakan luar biasa hari ini akan menentukan kualitas generasi dan daya tahan daerah di masa mendatang.
"Ketika pendidikan dapat dipulihkan dengan cepat dan tepat, pemulihan masyarakat akan berjalan lebih kuat dan berkelanjutan. Menjaga keberlangsungan pendidikan berarti menjaga masa depan Aceh," pungkas Iskandar.*
(ad)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.