BREAKING NEWS
Rabu, 15 April 2026

Viral! Kisah Guru Honorer di Daerah Terpencil NTT, Gaji Hanya Rp100–223 Ribu per Bulan

Dharma - Jumat, 27 Februari 2026 13:00 WIB
Viral! Kisah Guru Honorer di Daerah Terpencil NTT, Gaji Hanya Rp100–223 Ribu per Bulan
Influencer Suli mewawancarai Pak Agustinus, seorang guru honorer di NTT. (foto: suliantoindriaputra/ig)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Ketimpangan kesejahteraan guru honorer di daerah terpencil kembali menjadi sorotan.

Di wilayah Kupang, Nusa Tenggara Timur, dua pendidik menghadapi kondisi ekonomi yang jauh dari kata layak, meski telah mengabdi puluhan tahun di dunia pendidikan.

Kisah tersebut viral di media sosial setelah influencer bernama Suli mewawancarai seorang guru honorer di NTT.

Baca Juga:

Pak Agustinus, guru honorer dengan masa pengabdian 23 tahun, kini menerima gaji Rp223 ribu per bulan setelah pemotongan anggaran dari sebelumnya Rp600 ribu.

Sementara itu, Pak Wesli, yang menjabat kepala sekolah di wilayah yang sama, memperoleh Rp100 ribu per bulan.


(Seorang kepala sekolah di wilayah Kupang, Pak Wesli.)

Secara nominal, angka tersebut bahkan jauh di bawah kebutuhan dasar rumah tangga bulanan.

Namun bagi keduanya, itulah realitas yang harus dijalani setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

"Jika kita berbicara tentang masa depan bangsa, maka kita sedang berbicara tentang guru. Dan jika guru tidak sejahtera, kita sedang membiarkan fondasi itu rapuh," ujar Suli dalam pernyataannya.

Alih-alih berhenti pada empati, Suli menginisiasi sistem dukungan jangka panjang melalui komunitas edukasi digital yang dipimpinnya, TWS.

Menurut dia, bantuan dirancang tidak bersifat insidental, melainkan berorientasi pada stabilitas.

"Kami merancang sistem dukungan jangka panjang. Tujuannya adalah stabilitas, bukan sensasi," kata Suli.

Dalam struktur internal komunitas, bantuan dialokasikan melalui kontribusi kolektif anggota dan dukungan internal.

Transparansi serta konsistensi disebut menjadi fokus utama agar bantuan tidak terhenti di tengah jalan.

Pendekatan ini, menurut Suli, selaras dengan prinsip manajemen risiko dan perencanaan berbasis data yang selama ini menjadi fondasi edukasi finansial komunitas tersebut.

Persoalan kesejahteraan guru honorer memang bukan isu baru.

Namun kasus di Kupang memperlihatkan jurang yang masih lebar antara pengabdian dan penghargaan.

Tekanan ekonomi berkepanjangan berpotensi memengaruhi fokus dan produktivitas pengajar, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas pembelajaran.


Dalam konteks lebih luas, inisiatif berbasis komunitas digital ini mencerminkan pergeseran peran masyarakat sipil dalam merespons persoalan sosial.

Ekosistem digital tidak lagi hanya menjadi ruang berbagi informasi, tetapi juga medium mobilisasi sumber daya.

Bagi Suli, keberhasilan komunitas tidak semata diukur dari pertumbuhan anggota, melainkan dari dampak konkret yang dapat dirasakan.

Di tengah keterbatasan anggaran dan tantangan struktural, kisah guru honorer di NTT kembali mengingatkan bahwa pembangunan pendidikan tidak hanya berbicara soal kurikulum dan infrastruktur, tetapi juga kesejahteraan mereka yang berdiri di depan kelas.*


(oz/ad)

Editor
: Raman Krisna
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Presiden Prabowo Bertemu Sheikh MBZ dan 6 Emirat Lainnya, Perkuat Kerja Sama Strategis Investasi dan Ekonomi
Siapa Mukhrizal Arif? Saksi yang Kembalikan Rp15 Juta di Kasus Korupsi Bimtek Guru Dispendik Batu Bara
Bupati Padang Lawas Gelar Safari Ramadan di Barumun Barat, Pererat Silaturahmi dan Dukungan Ekonomi Lokal
Bupati Deli Serdang Tegaskan Pembangunan Harus Tepat Sasaran dan Sesuai Aturan
Safari Ramadan Pemko Medan: Wujud Nyata Pemerintah Hadir di Tengah Warga
Gubernur Koster Dorong Transformasi Digital Pemerintah Bali Lewat DPI dan AI
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru