BREAKING NEWS
Senin, 21 September 2026

Kuliah Tinggi Tapi Sulit Kerja? Ini Penyebab Banyak Lulusan Jadi Pengangguran Terdidik

Dharma - Jumat, 19 Juni 2026 09:44 WIB
Kuliah Tinggi Tapi Sulit Kerja? Ini Penyebab Banyak Lulusan Jadi Pengangguran Terdidik
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Ketimpangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri di Indonesia kembali menjadi sorotan.

Jargon link and match yang sudah digaungkan sejak 1990-an dinilai belum mampu menjawab persoalan utama ketidaksesuaian keahlian atau skill mismatch di pasar kerja.

Akibat kondisi tersebut, lulusan pendidikan tinggi masih banyak yang belum terserap dunia kerja.

Baca Juga:

Sebagian justru menjadi pengangguran terdidik karena keahlian yang dimiliki tidak sesuai dengan kebutuhan industri yang terus berubah cepat.

Peneliti utama SMERU Research Institute, Asep Suryahadi, mengatakan masalah utama terletak pada cepatnya perubahan dunia industri yang tidak diimbangi sistem pendidikan.

"Akibatnya, keahlian yang diajarkan di kelas sering kali sudah ketinggalan saat siswa lulus," kata dia, Jumat (19/6/2026).

Menurut Asep, perubahan industri dipicu oleh perkembangan teknologi, digitalisasi, otomatisasi, hingga transisi menuju ekonomi hijau.

Namun, proses pembaruan kurikulum pendidikan di Indonesia cenderung lambat dan memakan waktu panjang.

Ia juga menyoroti lemahnya keterlibatan industri dalam penyusunan kurikulum, standar kompetensi, hingga fasilitas praktik di lembaga pendidikan dan pelatihan vokasi.

"Industri jarang dilibatkan dalam penyusunan standar kompetensi, desain laboratorium, dan transfer pengetahuan langsung," ujarnya.

Selain itu, keterbatasan anggaran membuat banyak sekolah vokasi masih menggunakan peralatan yang sudah tidak sesuai dengan kebutuhan industri modern.

Di sisi lain, Head of Economic Research Division Pefindo, Suhindarto, menilai masalah skill mismatch tidak hanya berasal dari sisi pendidikan, tetapi juga dari sisi permintaan tenaga kerja.

Menurutnya, industri di Indonesia belum cukup menyerap lulusan perguruan tinggi karena terbatasnya penciptaan lapangan kerja formal yang sesuai kualifikasi.

"Ini menunjukkan kendala di sisi demand bisa sangat bermasalah bagi lulusan perguruan tinggi," kata dia.

Ia menambahkan, fenomena deindustrialisasi dini juga menjadi faktor penting yang memperlebar kesenjangan tersebut.

Sektor manufaktur yang biasanya menjadi penyerap tenaga kerja terdidik dinilai belum berkembang optimal.

"Negara yang berhasil keluar dari middle-income trap justru membangun industri dan reformasi pendidikan secara bersamaan," ujarnya.

Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat pengangguran lulusan pendidikan tinggi masih menjadi perhatian.

Dari total tenaga kerja muda, sekitar 35,36 persen bekerja tidak sesuai dengan tingkat pendidikannya.

Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio menilai persoalan lain yang memperburuk kondisi ini adalah praktik orang dalam dalam rekrutmen kerja serta lemahnya koordinasi antar-kementerian.

"Karena yang masuk adalah orang-orang yang tidak dididik, tetapi dengan koneksi," ujarnya.

Ekonom Universitas Gadjah Mada, Eddy Junarsin, menilai persoalan utama bukan pada kualitas lulusan, melainkan pada lambatnya pertumbuhan industri.

"Kalau tenaga kerja banyak, bakatnya bagus-bagus, tapi industrinya tidak bertambah, mau bagaimana?" katanya.*


(km/ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Kak Na Apresiasi IWPG, Aceh Jadi Daerah Fokus Pendidikan Perdamaian
INSAN Binjai Wisuda 402 Sarjana, Resmikan Program Magister Pendidikan Agama Islam
Gebyar Pendidikan Medan 2026, Rico Waas Yakin Anak Medan Lahir sebagai Generasi Juara
MBG Masih Gunakan Anggaran Pendidikan, DPR: Kesejahteraan Guru dan Beasiswa Tak Boleh Terganggu
Pemerintah Siapkan Rp635,9 Triliun untuk 8 Program Prioritas Nasional 2027, Pendidikan Dapat Jatah Terbesar
Wali Kota Medan Rico Waas Ikuti Pendataan Perdana Sensus Ekonomi 2026, Ajak Warga Berikan Data Jujur
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru