BREAKING NEWS
Senin, 24 Agustus 2026

Disrupsi Teknologi & Masa Depan Wirausaha: Universitas Paramadina Satukan Akademisi Tiga Negara di IFE 2026

gusWedha - Senin, 24 Agustus 2026 21:35 WIB
Disrupsi Teknologi & Masa Depan Wirausaha: Universitas Paramadina Satukan Akademisi Tiga Negara di IFE 2026
Universitas Paramadina mempertemukan akademisi, pendidik, praktisi, pembuat kebijakan dan mahasiswa dari Indonesia, Inggris serta Vietnam dalam International Forum for Entrepreneurship Educators 2026. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Universitas Paramadina mempertemukan akademisi, pendidik, praktisi, pembuat kebijakan dan mahasiswa dari Indonesia, Inggris serta Vietnam dalam International Forum for Entrepreneurship Educators (IFE) 2026. Forum yang digelar pada 19 Agustus 2026 itu membahas perubahan pendidikan kewirausahaan di tengah perkembangan teknologi dan tuntutan dunia usaha.

Mengusung tema "Glocalizing Entrepreneurship Education: Cultivating Mindsets for a Sustainable Future", forum tersebut menyoroti pentingnya menggabungkan perspektif global dengan kebutuhan dan aksi di tingkat lokal.

Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J. Rachbini mengatakan pendidikan kewirausahaan tidak cukup hanya mengajarkan teori bisnis. Menurutnya, perguruan tinggi perlu mendorong mahasiswa memiliki keberanian mencoba, kemampuan berinovasi serta pengalaman nyata dalam menghadapi ketidakpastian.

Baca Juga:

Didik juga berharap jejaring internasional yang terbentuk melalui IFE 2026 tidak berhenti pada forum diskusi. Kerja sama, kata dia, perlu dilanjutkan melalui riset bersama, pertukaran dosen, publikasi dan berbagai bentuk kolaborasi akademik lintas negara.

Keynote speaker dari Glasgow Caledonian University, Dr. Vasilios Stouraitis, menyoroti perlunya perubahan pendekatan dalam pendidikan kewirausahaan. Dia membedakan entrepreneurship education dan entrepreneurial education.

Menurut Vasilios, pendekatan entrepreneurial education memiliki cakupan lebih luas karena tidak hanya mengajarkan cara membangun usaha, tetapi juga membentuk kemampuan menghadapi ketidakpastian. Mahasiswa didorong untuk mengenali peluang, bereksperimen, membangun resiliensi dan menciptakan nilai secara bertanggung jawab.

Perspektif tersebut dinilai semakin relevan ketika perkembangan teknologi berlangsung cepat dan model bisnis terus berubah.

Sementara itu, Prof. Dr. Gancar C. Premanto dari Universitas Airlangga memperkenalkan konsep Holistic Entrepreneur Ecosystem. Model tersebut mencakup empat subsistem, yakni sistem pembelajaran, ekosistem kemitraan, fasilitas pendukung serta pengukuran hasil.

Model tersebut memadukan pembelajaran berbasis pengalaman dan proyek, mentoring alumni, keterlibatan praktisi, pemanfaatan platform digital, konsultasi bisnis hingga pengukuran prestasi mahasiswa melalui kompetisi nasional dan internasional.

Dengan pendekatan tersebut, perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat menyampaikan pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi calon entrepreneur.

Perkembangan kecerdasan buatan atau AI juga menjadi salah satu pembahasan dalam forum tersebut. Dr. Angelina Nath Hanh Le dari University of Economics Ho Chi Minh City mengaitkan perkembangan pendidikan kewirausahaan dengan perubahan pemasaran hingga konsep Marketing 7.0.

Menurut Angelina, kemajuan AI justru membuat unsur manusia seperti empati, autentisitas dan storytelling semakin penting.

"Something real, something imperfect, is more important than something that looks very perfect," ujarnya.

Dari Universitas Paramadina, Adrian Azhar Wijanarko, MM, mengangkat persoalan akses pembiayaan bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Menurut Adrian, masalah pembiayaan tidak selalu berkaitan dengan ketersediaan dana, tetapi juga kemampuan UMKM memenuhi aspek bankability.

Sebagian UMKM masih menghadapi kendala berupa keterbatasan agunan, riwayat kredit dan pencatatan keuangan yang belum terdokumentasi dengan baik. Kondisi tersebut membuat lembaga keuangan kesulitan menilai kelayakan usaha.

Karena itu, integrasi data dinilai menjadi salah satu faktor penting untuk membuka akses pembiayaan dan memperkuat inklusi keuangan UMKM.

IFE 2026 juga ditandai dengan peluncuran International Research Group for Entrepreneurship & SME (IRGESME) yang diketuai Dr. Iyus Wiadi. Kelompok riset tersebut diarahkan menjadi wadah pengembangan penelitian dan kolaborasi internasional di bidang kewirausahaan dan UMKM.

Agenda IRGESME meliputi riset bersama, publikasi ilmiah, pengajuan hibah, proyek buku serta kerja sama akademik lintas negara.

Pengusaha sekaligus mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menekankan pentingnya pendidikan kewirausahaan yang berorientasi pada tindakan. Menurutnya, prinsip "Think global, act local" relevan untuk membentuk entrepreneur yang mampu membaca perkembangan global sekaligus memahami kebutuhan masyarakat sekitar.

Sandiaga juga mendorong pemanfaatan teknologi seperti AI dan robotika untuk mempercepat kreativitas, inovasi dan pengembangan bisnis. Namun, teknologi menurutnya harus ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikannya.

Pandangan soal pentingnya jejaring juga disampaikan Ibnu Riyanto, Founder dan CEO Trusmi Group. Menurutnya, jaringan menjadi salah satu modal penting dalam membangun bisnis karena membuka kesempatan untuk belajar, berkolaborasi dan menemukan peluang baru.

"Memperluas network adalah salah satu strategi penting dalam membangun bisnis. Saya percaya, semakin luas kita berjejaring, semakin banyak kesempatan untuk belajar, berkolaborasi, dan menemukan peluang baru," kata Ibnu.

Rangkaian pembahasan dalam IFE 2026 menunjukkan bahwa pendidikan kewirausahaan kini semakin diarahkan sebagai pembentukan mindset, bukan hanya kemampuan mendirikan perusahaan.

Perguruan tinggi dituntut membangun ekosistem pembelajaran yang berbasis pengalaman, interdisipliner, terhubung dengan industri dan masyarakat serta mampu memanfaatkan teknologi.

Di tengah perkembangan AI, forum tersebut juga menegaskan bahwa kreativitas, empati, autentisitas dan kepercayaan tetap menjadi nilai penting yang perlu diperkuat dalam pendidikan dan pengembangan bisnis.* (dh)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Ngebut di Era Digital Menkomdigi Ungkap 4G Nyaris Sikat 99% Penduduk, 5G Masih Merayap
Kemitraan Strategis Eropa-Sumut: Wagub Surya Pikat Dubes Belgia Lewat Optimalisasi Sawit dan Inovasi Olahraga
Bukan Sengaja 'Diekspor', BMKG Ungkap Angin Musiman Jadi Biang Keladi Asap Kalimantan Menggeliat ke Negara Tetangga
Sains Lawan Asap: Saat Senjata Teknologi AI dan Garam Mikro BRIN Turun Gunung Padamkan Karhutla
Antisipasi Dampak El Nino, Malaysia Tawarkan Bantuan Penanganan Karhutla ke Indonesia
Meriah! Pida Ponsel dan MG Store Sukses Gelar Perlombaan HUT RI ke-81 di Pelabuhan Tanjung Tiram, Warga Tumpah Ruah
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru