BREAKING NEWS
Kamis, 15 Oktober 2026

Iskandar Muda Hasibuan: Masa Depan Pendidikan Ditentukan Kualitas Guru dan Integritas

T.Jamaluddin - Rabu, 14 Oktober 2026 21:25 WIB
Iskandar Muda Hasibuan: Masa Depan Pendidikan Ditentukan Kualitas Guru dan Integritas
Ketua Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh, Dr. Tgk. H. Iskandar Muda Hasibuan (batik kuning/duduk). (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

BENER MERIAH – Ketua Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh, Dr. Tgk. H. Iskandar Muda Hasibuan, menegaskan bahwa masa depan pendidikan ditentukan oleh kualitas guru, integritas, serta keberanian melakukan perubahan.

Hal itu disampaikan Iskandar saat membuka kegiatan konsolidasi internal Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Aceh di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Blang Panas, Kabupaten Bener Meriah, Rabu, 14 Oktober 2026.

Menurut Iskandar, konsolidasi internal menjadi langkah strategis untuk menyamakan visi, menyelaraskan program, serta meningkatkan mutu pendidikan Muhammadiyah.

Baca Juga:

Upaya tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan administratif, tetapi menghasilkan perubahan nyata bagi guru, peserta didik, dan masyarakat.

Ia menilai tantangan pendidikan semakin besar seiring perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap kualitas pembelajaran.

Karena itu, guru perlu memiliki kemampuan beradaptasi, menjaga integritas, terbuka terhadap inovasi, serta mampu membentuk karakter peserta didik.

Peningkatan mutu pendidikan, menurut arah kebijakan yang disampaikan, harus dimulai dari ruang kelas.

Program peningkatan kompetensi guru perlu memberikan dampak nyata terhadap proses belajar mengajar, bukan sekadar menghasilkan kegiatan pelatihan dan laporan administratif.

Guru juga perlu mendapatkan dukungan berkelanjutan melalui pengembangan profesional, pendampingan, pertukaran pengalaman, serta pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab.

Di sisi lain, sekolah perlu membangun budaya kerja yang mendorong kolaborasi, kedisiplinan, kreativitas, dan keberanian memperbaiki kekurangan.

Iskandar juga menyoroti pentingnya mempersiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan berpikir kritis, literasi digital, kecakapan sains dan numerasi, serta karakter yang kuat.

Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan teknologi digital dinilai dapat memperkaya proses pembelajaran.

Namun, penerapannya tetap perlu memperhatikan etika, tanggung jawab, perlindungan data, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Bagi pendidikan Muhammadiyah, pembaruan tersebut harus berjalan seiring dengan penguatan identitas, akhlak, dan komitmen terhadap kemajuan masyarakat.

Modernisasi pendidikan tidak boleh menghilangkan nilai dasar lembaga, sementara penguatan nilai juga tidak seharusnya menjadi penghalang bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Konsolidasi internal dinilai penting karena persoalan pendidikan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja.

Diperlukan keselarasan kebijakan di tingkat wilayah, pelaksanaan program di daerah, kepemimpinan sekolah, serta peran guru dan tenaga kependidikan.

Setiap program pendidikan perlu memiliki tujuan yang jelas, indikator keberhasilan yang dapat diukur, serta mekanisme evaluasi dan tindak lanjut.

Data mengenai kebutuhan sekolah, kondisi tenaga pendidik, kualitas pembelajaran, dan kesenjangan antardaerah juga perlu menjadi dasar penentuan prioritas.

Pendekatan tersebut diharapkan mendorong pengelolaan pendidikan yang lebih transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Keberhasilan tidak cukup diukur dari jumlah kegiatan yang dilaksanakan, tetapi juga dari peningkatan kemampuan guru, kualitas layanan pendidikan, dan manfaat yang dirasakan peserta didik.

Komunikasi publik yang terbuka dan berdasarkan fakta juga menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan masyarakat.

Informasi mengenai program dan capaian pendidikan perlu disampaikan secara jelas serta dapat dipertanggungjawabkan agar masyarakat memperoleh gambaran yang tepat mengenai perkembangan pendidikan.

Kepercayaan masyarakat menjadi salah satu modal penting bagi keberlanjutan lembaga pendidikan.

Kepercayaan tersebut dibangun melalui kesesuaian antara perkataan dan tindakan, kualitas layanan, keteladanan pemimpin, serta kemampuan lembaga merespons persoalan secara terbuka dan bertanggung jawab.

Dalam konteks pendidikan Muhammadiyah di Aceh, konsolidasi internal tidak hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat kontribusi pendidikan bagi masyarakat.

Sekolah diharapkan mampu memberikan layanan yang inklusif, memperhatikan kebutuhan peserta didik, dan membuka kesempatan berkembang tanpa membedakan latar belakang maupun kondisi geografis.

Kegiatan di Bener Meriah menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi dan menyamakan arah kebijakan pendidikan Muhammadiyah di Aceh.

Tantangan selanjutnya adalah menerjemahkan hasil konsolidasi menjadi program yang realistis, terukur, dan dilaksanakan secara konsisten di setiap satuan pendidikan.

Pada akhirnya, kemajuan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh slogan atau banyaknya program yang direncanakan.

Perubahan membutuhkan guru yang terus meningkatkan kompetensi, sekolah yang berani berbenah, serta organisasi yang bekerja secara kolaboratif.

Melalui langkah tersebut, pendidikan Muhammadiyah diharapkan dapat terus melahirkan generasi yang berilmu, berkarakter, dan mampu menghadapi perubahan zaman.* (ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Gandeng Pemkab Aceh Besar, Unmuha Resmi Teken MoU, Siap Genjot SDM dan Pembangunan Daerah
Kumpulkan PJU Hingga Kapolres, Kapolda Aceh Geber Arahan Baru Kapolri, Minta Pelayanan Maksimal
Rangkul Ulama Hingga Warga, Cara Unik Polres Aceh Timur Jaga Kamtibmas Lewat Subuh Keliling
Kejar-kejaran Mencekam di Langkat! Polisi Tabrak Mobil Kurir Sabu 24 Kg Berupah Rp 360 Juta
Kenang Kebaikan Aipda Jonni Rahmad, Rekan Seangkatan Serahkan Santunan untuk Keluarga Almarhum
PKB Masih 'Kaji' Wacana Pansus Ijazah Gibran, Jazilul Fawaid: Masih Sebatas Wacana Saja
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru