JAWA TENGAH -Mbok Yem, wanita yang dikenal sebagai pemilik satu-satunya warung di Gunung Lawu, terpaksa turun gunung lebih awal dari yang biasa dilakukan setiap bulan puasa.
Keputusan ini diambil karena kondisi kesehatannya yang menurun.
Biasanya, Mbok Yem hanya turun gunung dua kali setahun, yaitu menjelang Hari Raya dan pada bulan puasa.
Namun, kali ini, ia harus turun lebih awal karena sakit yang mengganggu kesehatannya sejak Februari 2025.
Menurut keterangan Muh. Arbain, Humas RSU Aisyiyah, yang menangani Mbok Yem, wanita yang memiliki nama asli Wakiyem tersebut sebelumnya selalu setia untuk turun gunung menjelang Hari Raya.
Namun, pada kali ini, ia mengikuti saran medis karena tubuhnya lemas dan mengalami pembengkakan pada kaki yang diduga disebabkan oleh asam urat.
"Turun gunung setahun 2 kali, karena usia sekarang setahun sekali tiap mau Hari Raya. Tapi, karena kondisi lemah, wonge manut (Mbok Yem nurut)," ungkap Muh. Arbain.
Perjalanan menuju Basecamp Cemoro Sewu ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam.
Ia dibantu oleh enam orang, yang terdiri dari relawan dan pendamping yang sudah berpengalaman.
Salah satu pendamping, Esa Adi Prasetya, mengungkapkan bahwa perjalanan turun gunung dilakukan dengan cara bergantian, dan Mbok Yem merasa kelelahan karena kondisi fisiknya yang menurun.
"Saya kemarin ikut sebagai pendamping. Selain pendamping ada relawan, kemarin ada 2 orang kak dari PGL. Untuk perjalanan turun Mbok Yem didampingi 6 orang," ujar Esa.
Meskipun Mbok Yem sedang menjalani perawatan di rumah sakit, warungnya yang berada di puncak Gunung Lawu tetap buka seperti biasa, melayani para pendaki yang melewati area tersebut.