Ia menyebut tim investigasi Polri menemukan bekas potongan gergaji mesin pada kayu gelondongan yang terseret arus banjir.
"Dari temuan tim di lapangan ada berbagai jenis kayu, namun sebagian di antaranya terlihat ada bekas potongan chainsaw," kata Sigit di Mabes Polri, Kamis, 4 Desember 2025.
Temuan ini memperkuat kecurigaan publik bahwa gelondongan kayu yang berserakan pascabanjir bukan berasal dari proses alami, melainkan hasil pembalakan.
Meski begitu, Kapolri belum merinci lebih jauh asal-usul potongan tersebut. Ia menegaskan hal itu masih menjadi bahan pendalaman penyelidik.
Sigit menginstruksikan tim untuk memperluas penyusuran daerah aliran sungai yang terdampak banjir.
Penelusuran dimulai dari hilir hingga ke hulu untuk memastikan jejak kayu dan sumber penebangan.
"Tim sedang turun bersama tim kehutanan untuk menyusuri daerah aliran sungai. Dari wilayah terdampak kita tarik sampai ke hulu dan hilirnya," ujarnya.
Sebelumnya, masyarakat dikejutkan dengan temuan gelondongan kayu berukuran besar yang mengapung dan menumpuk di beberapa titik pascabanjir.
Kayu-kayu itu tampak terkelupas, tanpa ranting, dan terpotong rapi seolah berasal dari penebangan terstruktur.
Temuan tersebut memicu kemarahan publik karena dinilai mengindikasikan kerusakan hutan yang telah lama diperingatkan para pakar.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sempat menyebut kayu-kayu itu berpotensi berasal dari lokasi bekas penebangan ilegal, area penyalahgunaan pemegang hak atas tanah (PHAT), atau dari pohon-pohon lapuk yang sebelumnya sudah ditebang.
Sejumlah ahli mitigasi bencana juga menilai banjir besar yang melanda Sumatra tidak semata dipicu oleh curah hujan ekstrem, melainkan akumulasi deforestasi yang terus terjadi dalam dua dekade terakhir.
Temuan bekas potongan chainsaw yang diungkap Kapolri kini menjadi titik awal investigasi aparat untuk mengurai faktor penyebab banjir dan mengungkap dugaan praktik illegal logging yang merusak kawasan hutan.*