Video yang beredar di media sosial itu memperlihatkan banyaknya bantuan berupa sembako, minyak, popok bayi, makanan, dan minuman yang teronggok dalam jumlah besar, sementara sebagian masyarakat masih membutuhkan bantuan pasca-bencana.
Bobby Nasution mengaku belum memperoleh informasi yang lengkap mengenai insiden tersebut.
Ia mengatakan, meskipun informasi yang diterimanya berasal dari media sosial, dirinya akan segera melakukan pengecekan lebih lanjut terkait masalah penumpukanbantuan ini.
"Saya belum kroscek. Nanti saya tanya lagi, karena yang viral di media sosial hanya masalah waktu saja untuk mendistribusikannya," ujar Bobby Nasution saat ditemui di Pasar Sukaramai Medan, Selasa (17/03/2026).
Diketahui, video yang tersebar menunjukkan rekaman seseorang yang sedang mengungkapkan kekesalannya melihat tumpukan bantuan di gudang tersebut, sambil menyoroti bahwa beberapa bantuan masih ada yang terstempel dengan logo dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta beberapa bantuan lainnya dari pihak perusahaan swasta.
"Ini bantuan dari Januari, sedangkan di luar sana masih banyak yang kelaparan. Luar biasa berlimpah, ada yang masih di-stempel. Ada dari BNPB juga," ujar orang yang merekam video tersebut.
Menanggapi permasalahan ini, Wali Kota Sibolga, Akhmad Syukri Nazry Penarik, memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa Pemko Sibolga tidak pernah berniat menimbun bantuan.
Menurutnya, penumpukanbantuan di gudang tersebut disebabkan oleh banyaknya pihak yang memberikan bantuan kepada masyarakat Sibolga.
Namun, keterbatasan ruang di daerah tersebut membuat penempatan bantuan di beberapa lokasi yang berbeda, seperti di Tugu Nasional dan kini di Panomboman.
"Pemko tidak pernah menimbun bantuan. Tetapi banyak kementerian, lembaga, dan pihak sosial yang memberikan bantuan untuk Sibolga dan masyarakatnya. Kami tidak ada space, sehingga bantuan-bantuan tersebut kami tempatkan sementara di Panomboman," terang Syukri.
Lebih lanjut, Wali Kota Sibolga menegaskan bahwa Pemko Sibolga telah mendistribusikan bantuan tersebut secara terus-menerus kepada masyarakat yang menjadi korban banjir dan longsor di beberapa waktu lalu.
Pemko juga memastikan bahwa warga yang kehilangan rumah dan mengalami kerusakan berat sudah mendapatkan bantuan sesuai dengan kebutuhan mereka.
"Untuk warga yang mendapatkan Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp 600 ribu dari BNPB, Pemko Sibolga juga memberikan bantuan sembako minimal satu bulan sekali," jelasnya.
Syukri juga memberikan penjelasan mengenai penumpukanbantuan yang terekam dalam video tersebut.
Ia mengatakan bahwa bantuan dari bulan Desember tahun lalu masih belum habis dibagikan, sehingga pihaknya memprioritaskan distribusi bantuan tersebut terlebih dahulu sebelum melanjutkan dengan bantuan dari Januari.
"Bantuan makanan dalam video itu berasal dari Januari. Sementara bantuan yang dari Desember saja belum habis. Kami harus menghabiskan yang Desember terlebih dahulu, baru kemudian yang Januari, agar bantuan yang disalurkan tercatat dengan tepat dan akurat," jelas Wali Kota Sibolga.*