Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
"Kita tentu memahami semangat membangun disiplin, integritas, dan jiwa pengabdian. Namun perlu dievaluasi secara objektif apakah bentuk pelatihan yang diterapkan saat ini sudah paling relevan dengan kebutuhan calon manajer koperasi yang nantinya akan mengemban tugas-tugas manajerial, bisnis, tata kelola organisasi, hingga pengembangan usaha di desa," katanya.
Rahmat menegaskan bahwa fokus utama pelatihan seharusnya diarahkan pada penguatan kemampuan teknis dan manajerial.
Mulai dari tata kelola koperasi, pengembangan usaha, digitalisasi, pengelolaan keuangan, hingga pemberdayaan masyarakat desa.
"Fokus utama yang harus dipastikan adalah bagaimana para manajer ini benar-benar siap mengelola koperasi secara profesional. Mereka harus menguasai aspek manajemen, tata kelola keuangan, pengembangan usaha, digitalisasi, hingga pemberdayaan masyarakat desa. Sistem pelatihan harus optimal untuk mendukung kebutuhan tersebut," lanjutnya.
Selain itu, Rahmat menekankan bahwa peserta program merupakan warga sipil yang memiliki latar belakang beragam.
Karena itu, metode, intensitas, dan standar pelatihan perlu disesuaikan dengan tugas yang akan mereka jalankan di lapangan.
"Calon manajer KDMP ini bukan prajurit militer. Mereka berasal dari masyarakat sipil yang sedang dipersiapkan menjadi penggerak ekonomi desa. Karena itu tentu diperlukan penyesuaian metode, intensitas, maupun standar pelatihan agar tetap relevan, proporsional, aman, dan sesuai dengan kebutuhan tugas yang akan mereka jalankan nantinya," tandasnya.
Sorotan DPR ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara program agar pembekalan sumber daya manusia dalam program Koperasi Desa Merah Putih dapat berjalan efektif, aman, dan sesuai dengan tujuan pembangunan ekonomi desa.* (rs/ad)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.