BREAKING NEWS
Senin, 17 Agustus 2026

Tangis Ibu Korban MBG Berastagi Pecah di Hadapan Kepala BGN: Apa Sebenarnya Racun yang Dimakan Anak Saya?

Administrator - Senin, 17 Agustus 2026 20:15 WIB
Tangis Ibu Korban MBG Berastagi Pecah di Hadapan Kepala BGN: Apa Sebenarnya Racun yang Dimakan Anak Saya?
Tangis ibu salah satu pelajar yang diduga keracunan usai menyantap makanan dari program MBG pecah saat bertemu Kepala BGN Sudaryono di Rumah Sakit Efarina Etaham Berastagi, Kab. Karo, Ahad, 16 Agustus 2026. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

KARO — Tangis Fitriani br Sijabat pecah saat bertemu Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono di Rumah Sakit Efarina Etaham Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Ahad, 16 Agustus 2026.

Putrinya, Agnesia Paruliana br Silitonga, merupakan salah satu pelajar yang diduga mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Agnesia, pelajar SMAN 1 Berastagi, masih menjalani perawatan ketika Sudaryono datang meninjau kondisi para siswa yang terdampak.

Baca Juga:

Di hadapan Kepala BGN, Fitriani meminta penjelasan mengenai penyebab gangguan kesehatan yang dialami putrinya.

"Apa sebenarnya racun yang dimakan anak saya, agar kami tahu cara mengobatinya," ujar Fitriani.

Fitriani mengatakan Agnesia pertama kali mendapat perawatan di RS Amanda Berastagi setelah mengalami gangguan pernapasan dan sesak pada Kamis, 13 Agustus 2026.

Setelah mendapat penanganan medis, Agnesia sempat diperbolehkan pulang.

Namun, kondisi putrinya kembali memburuk. Agnesia mengalami keluhan mual dan gatal-gatal sehingga keluarga membawanya kembali ke rumah sakit.

Agnesia kemudian menjalani perawatan di RS Efarina Etaham Berastagi.

Fitriani mengatakan dirinya ingin mengetahui penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami anaknya agar pengobatan yang diberikan sesuai dengan kondisi Agnesia.

"Aku tidak mau salah obat. Nanti rusak ginjalnya, siapa lagi yang bertanggung jawab," ucapnya.

Menurut Fitriani, kepastian mengenai penyebab gangguan kesehatan penting bagi keluarga.

Ia juga menyebut masyarakat Karo memiliki pengetahuan mengenai pengobatan tradisional yang berkembang di tengah masyarakat.

"Intinya kami mau obat yang cocok dengan penyakitnya," katanya.

Fitriani juga mempertanyakan bentuk pertanggungjawaban BGN setelah ratusan siswa diduga mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG.

Ia meminta pemerintah tidak hanya datang melihat kondisi korban, tetapi juga memberikan penjelasan yang jelas kepada keluarga mengenai penyebab kejadian dan langkah penanganannya.

"Pertanggungjawaban yang mana yang kalian bilang, anak saya ini sebenarnya kenapa, tolong jangan cuma datang dan melihat, kasih kami keterangan yang jelas," tegas Fitriani.

Sudaryono datang ke Sumatera Utara untuk melihat langsung kondisi siswa yang masih menjalani perawatan.

Sebelumnya, ia meninjau korban di RS Haji Medan sebelum bertolak ke Kabupaten Karo.

Menanggapi keluhan orang tua korban, Sudaryono mengatakan hasil investigasi kasus dugaan keracunan MBG akan disampaikan secara terbuka.

Ia memastikan BGN tidak akan menutupi penyebab kejadian tersebut.

Berdasarkan pemeriksaan awal yang diperoleh BGN, dugaan masalah mengarah pada ikan yang disebut tidak disimpan di ruang pendingin selama lebih dari 12 jam.

Sudaryono juga mengakui adanya kelalaian di lingkungan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dinilainya fatal.

"Hasil uji sudah ada di Dinas Kesehatan. Itu ada kelalaian yang fatal dan kita sudah lakukan penutupan dapur, dan kepala SPPG sudah kita copot," ujar Sudaryono.

Dapur SPPG yang berkaitan dengan kejadian tersebut telah ditutup. Kepala SPPG juga dicopot dari jabatannya.

Kasus dugaan keracunan MBG di Berastagi terjadi pada Kamis, 13 Agustus 2026.

Sejumlah pelajar dari SMAN 1 Berastagi, SMA Bersama, dan SMK Negeri 1 Berastagi mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan dari program MBG.

Sebagian siswa harus mendapat penanganan di rumah sakit. Jumlah siswa yang mengalami keluhan kesehatan dilaporkan mencapai lebih dari 300 orang.

Berdasarkan data hingga Ahad, sebanyak 32 pelajar masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.

Mereka dirawat di RS Efarina Etaham Berastagi, RS Amanda Berastagi, RS Haji Medan, dan RS Bina Kasih Medan.

Kasus tersebut kini menjadi perhatian pemerintah.

Selain memastikan kondisi para siswa, BGN melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG dan SPPG yang terlibat.

Bagi keluarga korban, penanganan medis dan pemulihan anak menjadi prioritas.

Namun, mereka juga menunggu penjelasan mengenai penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para siswa serta bentuk pertanggungjawaban pemerintah.* (km/ad)

Editor
: Mass Arie
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Absen dari Upacara 17 Agustus di Istana, SBY: Saya Minta Maaf
Kepala BGN: Tak Peduli Punya Siapa, SPPG Tak Sesuai Standar Ditutup Permanen!
Susanah Disebut Prabowo Berpenghasilan Rp700 Ribu per Kg, Benarkah? Keluarga Ungkap Faktanya
Usai 353 Siswa Diduga Keracunan MBG di Berastagi, BGN Pertimbangkan Test Kit di Setiap Dapur
200-300 Ekor Ikan Dibiarkan 12 Jam di Suhu Ruang, Ini 5 Hal Penting dari Bos BGN soal Keracunan MBG Karo
Gak Boleh Tipu-tipu! Diaspora Tantang Pejabat Icip Menu MBG Sama Persis dengan Siswa
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru