BREAKING NEWS
Sabtu, 05 September 2026

Gunung Anak Krakatau Menggelegar Lagi, Warga Banten Rasakan Getaran dan Dentuman

Dharma - Sabtu, 05 September 2026 20:12 WIB
Gunung Anak Krakatau Menggelegar Lagi, Warga Banten Rasakan Getaran dan Dentuman
Aktivitas Gunung Anak Krakatau pada Sabtu, 5 September 2026. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

SERANG – Warga di pesisir Pantai Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, masih merasakan getaran dan suara gemuruh dari aktivitas Gunung Anak Krakatau pada Sabtu, 5 September 2026 malam.

Namun, intensitas getaran dan suara gemuruh disebut tidak sekuat yang terjadi pada Jumat malam hingga Sabtu pagi.

Salah satu warga Kampung Ciparay, Desa Cinangka, Asih Kurnaesih, 46 tahun, mengatakan getaran masih terasa hingga sekitar pukul 18.30 WIB.

Baca Juga:

Getaran tersebut membuat kaca jendela rumahnya kembali bergetar.

"Sampai jam 18.30 WIB ini, masih terasa sesekali ada getaran, kaca jendela masih bergetar. Tapi, tidak kencang seperti pagi tadi," kata Asih.

Menurut Asih, suara gemuruh dari aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda juga masih terdengar dari kampungnya, meski dengan intensitas lebih kecil.

Ia mengatakan suara gemuruh dan aktivitas erupsi terdengar lebih jelas dari wilayah Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka.

Informasi tersebut diketahui dari status WhatsApp rekannya.

"Ini masih terdengar gemuruh, tapi dari Pasauran kedengeran dan terlihat apinya," ujar Asih.

Warga lainnya, Zidhan Ramadhan, 24 tahun, yang bekerja di salah satu hotel di Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, juga mengaku mendengar suara dentuman sejak sekitar pukul 16.00 WIB hingga malam.

"Iya betul terdengar lagi suara dentuman, tapi enggak sebesar pagi tadi. Tadi mulai jam 16.00 WIB." ujar dia.

Selain suara dentuman, Zidhan mengatakan kondisi langit di kawasan pesisir Anyer hingga Cinangka tampak gelap dan berkabut.

Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau.

"Kata orang sekitar sini mah abu. Biasanya jam 4 sore itu masih panas, engga gelap kaya gini," ucap Zidan mengirimkan video suasana langit Pasauran.

Zidhan juga mengatakan sejumlah tamu hotel tempatnya bekerja sempat panik. Namun, sebagian lainnya tetap melanjutkan aktivitas berlibur.

Sebagian wilayah Banten turut terdampak abu vulkanik akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Banten Lutfi Mujahidin mengatakan analisis BMKG melalui RGB Citra Himawari pada Sabtu, 5 September 2026 pukul 16.00 WIB menunjukkan abu vulkanik telah menyebar ke sebagian wilayah Banten.

"Kalau melihat data dalam peta itu, semua pesisir pantai barat terdampak, abu vulkanik yang pasti tersebar pesisir barat Pandeglang dan pesisir barat Serang," kata Lutfi, Sabtu.

Berdasarkan laporan BMKG, sebaran abu dari permukaan hingga ketinggian 20.000 kaki teramati bergerak ke arah tenggara-selatan.

Sebaran tersebut mencakup sebagian wilayah Banten dan Jawa Barat serta perairan di sekitarnya.

Sementara itu, abu pada lapisan permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki teramati bergerak ke arah barat daya-barat laut.

Sebarannya mencakup sebagian Lampung dan Banten, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia di sebelah barat Lampung dan Banten.

BPBD Banten mengimbau masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah.

"Kita ajak masyarakat yang beraktifitas diluar rumah menggunakan masker," ujar Lutfi.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau Pasauran, Serang, Muhammad Dika, sebelumnya menjelaskan suara dentuman yang terdengar hingga kawasan pesisir Anyer dan Labuan berkaitan dengan aktivitas erupsi.

Menurut Dika, suara tersebut bukan berasal dari gempa bumi ataupun pergerakan tanah. Suara terdengar akibat gelombang hasil erupsi yang merambat melalui udara.

"Jadi, bukan dari dentuman gempa bumi atau gerakan tanah, namun dentuman rambatan udara yang berasal dari letusan Gunung Anak Krakatau yang terasa di pesisir Pantai Banten," kata Dika.

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi sejak Jumat malam hingga Sabtu dini hari.

Aktivitas vulkanik tersebut berlangsung selama beberapa jam dan menghasilkan lontaran material pijar serta abu vulkanik.

Berdasarkan catatan pemantauan PVMBG, erupsi tercatat berlangsung dari Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga Sabtu, 5 September 2026 pukul 04.40 WIB.

Kepala PVMBG Kementerian ESDM, Rita Susilawati, mengatakan erupsi tersebut merupakan aktivitas yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik.

"Erupsi Krakatau ini menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik," kata Rita.

Petugas juga melihat semburan berwarna merah dari Gunung Anak Krakatau. Namun, tinggi kolom erupsi tidak dapat diamati secara akurat.

"Tinggi kolom erupsi tidak dapat kami amati, namun secara visual terlihat warna merah menyala dari semburan erupsi secara terus-menerus," ujarnya.

Meski aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat, PVMBG memastikan kondisi tubuh gunung saat ini tidak menunjukkan indikasi keruntuhan besar yang berpotensi memicu tsunami.

Rita mengatakan struktur Gunung Anak Krakatau relatif stabil sejak mengalami pertumbuhan setelah erupsi besar pada 2018.

"Pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau pasca-erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan skala besar yang dapat memicu tsunami," ujar Rita, Sabtu, 5 September 2026.

Kekhawatiran mengenai tsunami kembali muncul karena Gunung Anak Krakatau memiliki sejarah memicu tsunami, termasuk pada 22 Desember 2018 ketika sebagian tubuh gunung runtuh.

"Jadi kekhawatiran mengenai potensi tsunami ini muncul, karena Gunung Anak Krakatau memiliki sejarah pernah memicu tsunami akibat runtuhnya sebagian tubuh gunung pada 22 Desember 2018," ucapnya.

"Namun kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda," tambahnya.

Meski demikian, PVMBG tetap melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas dan perubahan bentuk Gunung Anak Krakatau.

"Meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi gunung tetap kami pantau secara intensif," katanya.

Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A yang berada di wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.

Pemantauan aktivitas gunung dilakukan melalui dua pos utama, yakni Pos Pengamatan di Kalianda, Lampung Selatan, dan Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.

Masyarakat di wilayah yang terdampak abu vulkanik diimbau mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang serta menggunakan masker ketika berada di luar ruangan.* (km/ad)

Editor
: Administrator
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Ajaib! 2 Korban Diselamatkan Setelah 10 Hari Terjebak Banjir Bandang Nepal
Dentuman Misterius di Bandung Bikin Geger, BMKG Temukan Anomali tapi Belum Bisa Ungkap Penyebab
Mengapa Dentuman Erupsi Anak Krakatau Terdengar hingga Bandung? Ini Penjelasan Ahli
Aktivitas Gunung Sinabung Masih Tinggi, Pengungsi Mulai Keluhkan Gangguan Kesehatan
Gerak Cepat Bantu Warga Terdampak, Pengungsi Erupsi Gunung Sinabung di Karo Terima Ratusan Porsi Makan Bergizi Gratis
Gunung Semeru di Lumajang Kembali Erupsi dan Semburkan Kolom Abu Setinggi 1.000 Meter
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru