BREAKING NEWS
Sabtu, 19 September 2026

Viral Pegawai SPPG Bantul Diduga Olok-olok Korban Dugaan Keracunan MBG, BGN Langsung Beri Teguran

Nurul - Sabtu, 19 September 2026 22:16 WIB
Viral Pegawai SPPG Bantul Diduga Olok-olok Korban Dugaan Keracunan MBG, BGN Langsung Beri Teguran
Salah satu pegawai SPPG di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), diduga mengolok-olok korban dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) viral di media sosial. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

BANTUL — Salah satu pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menjadi sorotan setelah video atau pernyataannya yang diduga mengolok-olok korban dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) viral di media sosial.

Koordinator Regional Badan Gizi Nasional (BGN) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Wirandita Gagat Widyatmoko mengatakan pihaknya telah memberikan teguran kepada SPPG dan pegawai yang bersangkutan.

Pegawai tersebut diketahui berposisi sebagai pengawas keuangan di SPPG.

Baca Juga:

"Kami juga sudah memberikan teguran kepada SPPG dan yang bersangkutan," kata dia, Sabtu (19/8/2026).

Gagat menegaskan, setiap kejadian yang berkaitan dengan keamanan pangan dan berdampak kepada penerima manfaat harus disikapi secara serius.

Menurut dia, empati dan rasa kemanusiaan harus dikedepankan dalam menghadapi kondisi tersebut.

"Kami prihatin dan menyayangkan apabila benar terdapat pernyataan dari jajaran SPPG yang tidak menunjukkan empati terhadap masyarakat yang diduga terdampak."

Dalam kondisi seperti ini, kata Gagat, seluruh jajaran SPPG harus mengedepankan kemanusiaan, empati, sensitivitas, dan sikap saling menghormati.

"Dalam kondisi seperti ini, yang harus dikedepankan adalah rasa kemanusiaan, empati, sensitivitas, dan saling menghormati," ujarnya.

Gagat mengatakan kejadian di satu wilayah harus menjadi perhatian dan pembelajaran bagi seluruh jajaran SPPG di wilayah lainnya.

Ia tidak ingin kejadian yang menimpa penerima manfaat justru dijadikan bahan candaan, olok-olok, maupun komentar yang dapat melukai masyarakat yang sedang menghadapi kondisi sulit.

Di sisi lain, Gagat menekankan proses penanganan setiap kejadian harus tetap berdasarkan fakta.

Menurut dia, petugas tidak boleh mendahului proses pemeriksaan dan pembuktian.

Istilah seperti "dugaan", "indikasi", atau "informasi awal" harus digunakan secara tepat sampai proses verifikasi dan pembuktian selesai.

"Kita harus bisa membedakan antara memberikan klarifikasi, memberikan pendapat, dan memberikan penilaian terhadap suatu kejadian."

"Jangan sampai karena ingin memberikan komentar, justru muncul pernyataan yang tidak sensitif dan kemudian memperbesar persoalan," ujarnya.

Gagat juga mengingatkan seluruh jajaran SPPG, mulai dari Koordinator Wilayah (Korwil), Koordinator Kecamatan (Korcam), Kepala SPPG, Pengawas Gizi, Pengawas Keuangan, hingga seluruh personel SPPG untuk menjaga etika komunikasi.

Hal tersebut, kata dia, termasuk dalam penggunaan media sosial.

Setiap personel harus memahami bahwa pernyataan yang disampaikan di ruang publik dapat berdampak terhadap kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan program MBG secara keseluruhan.

Sikap tersebut dinilai penting sejalan dengan upaya memperkuat tata kelola dan kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) dalam penyelenggaraan SPPG, khususnya ketika berbagai kejadian terkait keamanan pangan menjadi perhatian publik.

BGN juga menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap standar operasional dan keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG.

"Kami mengajak seluruh jajaran untuk saling menghormati. Ketika ada saudara kita, penerima manfaat, atau masyarakat yang diduga terdampak suatu kejadian, respons pertama kita seharusnya adalah empati, bukan menghakimi."

"Jadikan setiap kejadian sebagai pembelajaran untuk memperbaiki pelayanan dan memperkuat pencegahan," ungkapnya.

Gagat menambahkan bahwa BGN tetap menghormati proses pemeriksaan dan pembuktian terhadap setiap kejadian.

Menurut dia, fokus utama seluruh jajaran adalah memastikan keamanan pangan, meningkatkan kualitas pelayanan, serta mencegah kejadian serupa melalui penerapan SOP secara konsisten.

"Kita bekerja untuk masyarakat. Karena itu, mari jaga bukan hanya kualitas makanan yang kita berikan, tetapi juga cara kita memperlakukan dan berkomunikasi dengan masyarakat."

"Sensitif terhadap keadaan, empati terhadap yang terdampak, dan saling menghormati harus menjadi bagian dari budaya kerja kita," tutupnya.* (km/ad)

Editor
: Abyadi Siregar
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Imbas Marak Keracunan MBG di Sumut, Dinkes Siantar Perketat Dapur SPPG dan Juru Masak
Puluhan Siswa dari Empat Sekolah di Galang Diduga Keracunan MBG, Dinkes Deli Serdang Periksa Sampel Makanan
Buntut Puluhan Siswa MTsN 2 Kisaran Masuk IGD, DPRD Asahan Minta Program MBG Dievaluasi Total
Cuaca Jogja Hari Ini 19 September: Mayoritas Cerah, Suhu Capai 33 Derajat
Jaga Kualitas MBG dan Kendalikan Harga Pangan, TPID Sumut Perkuat Tata Kelola SPPG
Usai Konsumsi MBG, 38 Siswa dari 4 SD di Galang Alami Sakit Perut dan Muntah
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru