Dana tersebut akan digunakan untuk distribusi bibit unggul ke lahan seluas 800 ribu hektare secara langsung ke tangan petani.
"Seluruh bibit diserahkan langsung ke petani. Tujuannya agar manfaat program ini bisa dirasakan nyata oleh mereka yang mengelola tanah," tegasnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian IPB, Prof. Suryo Wiyono, menegaskan bahwa hilirisasi menjadi aspek krusial dalam menjamin nilai tambah dari sektor pertanian.
Menurutnya, jika hanya berhenti di hulu, petani akan tetap berada dalam posisi lemah dalam rantai pasok.
"Tanpa hilirisasi, pertanian tidak akan berkembang. Nilai tambah justru dinikmati oleh sektor lain. Karena itu, integrasi antara hulu dan hilir, termasuk pengembangan kawasan, harus terus didorong," kata Prof. Suryo.
Langkah strategis ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem pertanian terpadu, di mana hasil riset dari kampus bisa langsung diimplementasikan oleh petani dan pelaku usaha agribisnis di daerah.
Dengan penguatan hilirisasi dan dukungan kebijakan serta anggaran, pemerintah optimistis pertanian Indonesia bisa lebih mandiri, berdaya saing tinggi, dan benar-benar memberikan kesejahteraan bagi petani sebagai pelaku utama.*