BREAKING NEWS
Minggu, 08 Maret 2026

Buya Yahya Sebut Jadi Presiden Berat, Ketua BEM UGM Kritik: Beliau Ngemis Suara Rakyat dengan Joget-joget!

Adam - Minggu, 08 Maret 2026 08:27 WIB
Buya Yahya Sebut Jadi Presiden Berat, Ketua BEM UGM Kritik: Beliau Ngemis Suara Rakyat dengan Joget-joget!
Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, kritisi pernyataan Buya Yahya, usai ke Istana Negara untuk menemui Presiden Prabowo Subianto. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

YOGYAKARTA — Kedatangan ulama sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al Bahjah, Cirebon, Yahya Zainul Ma'arif alias Buya Yahya, ke Istana Negara untuk menemui Presiden Prabowo Subianto memicu reaksi Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto.

Buya Yahya mengajak masyarakat mendoakan Presiden Prabowo Subianto, karena menjadi pemimpin negara bukanlah tugas ringan.

"Yang terpenting doa. Karena jadi presiden tidak gampang, berat. Kita harus banyak mendoakan pemimpin kita, bagaimana mereka bisa sukses dengan menjalankan tugasnya," ujar Buya Yahya usai buka puasa bersama, Kamis (5/3/2026).

Baca Juga:

Namun, Tiyo menilai pernyataan Buya Yahya tersebut perlu dikritisi.

Menurutnya, Prabowo sendiri yang berkali-kali menawarkan diri menjadi presiden, sehingga wajar jika rakyat merasa "mengemis suara" untuk mendapatkannya.

Tiyo juga menyinggung aksi kampanye Prabowo pada 2024 lalu yang menggunakan strategi berjoget dengan julukan "gemoy" untuk meraih simpati rakyat.

"Jadi presiden itu berat. Maaf, Buya, sejak awal rakyat tidak pernah meminta Bapak Prabowo jadi presiden. Beliau sendiri yang berkali-kali menawarkan diri sambil ngemis suara rakyat," tulis Tiyo Ardianto melalui akun media sosialnya.

Ia menambahkan, rakyat Indonesia terkenal mudah tersentuh rasa iba, dan hal ini tercermin dalam dukungan yang diberikan meski sebelumnya sempat menolak.

Selain menyoroti proses politik Prabowo, Tiyo juga menyinggung campur tangan politik yang diperlukan untuk memastikan Gibran Rakabuming Raka lolos sebagai calon wakil presiden, yang menurutnya menambah kompleksitas "beban" kepemimpinan.

"Jadi Presiden itu mungkin berat, tapi, ya, lebih berat lagi jadi WNI, to?" tambahnya.

Di sisi lain, Buya Yahya menekankan nilai kebaikan dan kedamaian, terutama di bulan suci Ramadan.

Ia berharap doa masyarakat menjadi energi positif bagi kepemimpinan nasional dan kesejahteraan rakyat.

"Pesan cinta, kita ingin bagaimana Ramadan ini damai dan tenteram. Alhamdulillah, semuanya sudah baik-baik. Ramadan kita jadikan momentum kebaikan, Ramadan damai, Ramadan penuh keindahan," ujarnya.

Kehadiran Buya Yahya dan pernyataan Tiyo Ardianto mencerminkan perbedaan perspektif antara tokoh agama dan mahasiswa dalam menilai dinamika politik nasional, sekaligus menunjukkan pentingnya dialog publik dalam demokrasi.*


(di/ad)

Editor
: Abyadi Siregar
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Ajak Tingkatkan Kepedulian Sosial, Wakil Wali Kota Medan Serahkan Santunan Anak Yatim Saat Buka Puasa Bersama Gerindra Sumut
Tanam Jagung Serentak Kuartal I 2026 Digelar, Pemko Tanjungbalai Sinergi dengan Polres Dukung Ketahanan Pangan Nasional
Wakil Wali Kota Tanjungbalai Buka Pesantren Kilat Ramadan di SMAN 1, Dorong Lahirnya Generasi Emas Bebas Narkoba
Melalui Safari Ramadhan FORMADDA Sumut, Pemkab Batu Bara Perkuat Kolaborasi dengan Organisasi Kepemudaan
Safari Ramadan DPW Syarikat Islam Sumut dan LAZ Salam Pererat Silaturahmi di Masjid Ubudiyah Binjai
BGN: MBG Bukan Bisnis, Tapi Investasi Sosial
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru