Salah Kaprah Stok BBM 21 Hari: Pertamina dan DEN Klarifikasi Soal Cadangan Energi Nasional
JAKARTA Menjelang momen Ramadan dan Idul Fitri 2026, isu ketahanan energi kembali menjadi sorotan publik. PT Pertamina (Persero) menegaska
EKONOMI
YOGYAKARTA — Kedatangan ulama sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al Bahjah, Cirebon, Yahya Zainul Ma'arif alias Buya Yahya, ke Istana Negara untuk menemui Presiden Prabowo Subianto memicu reaksi Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto.
Buya Yahya mengajak masyarakat mendoakan Presiden Prabowo Subianto, karena menjadi pemimpin negara bukanlah tugas ringan.
"Yang terpenting doa. Karena jadi presiden tidak gampang, berat. Kita harus banyak mendoakan pemimpin kita, bagaimana mereka bisa sukses dengan menjalankan tugasnya," ujar Buya Yahya usai buka puasa bersama, Kamis (5/3/2026).Baca Juga:
Namun, Tiyo menilai pernyataan Buya Yahya tersebut perlu dikritisi.
Menurutnya, Prabowo sendiri yang berkali-kali menawarkan diri menjadi presiden, sehingga wajar jika rakyat merasa "mengemis suara" untuk mendapatkannya.
Tiyo juga menyinggung aksi kampanye Prabowo pada 2024 lalu yang menggunakan strategi berjoget dengan julukan "gemoy" untuk meraih simpati rakyat.
"Jadi presiden itu berat. Maaf, Buya, sejak awal rakyat tidak pernah meminta Bapak Prabowo jadi presiden. Beliau sendiri yang berkali-kali menawarkan diri sambil ngemis suara rakyat," tulis Tiyo Ardianto melalui akun media sosialnya.
Ia menambahkan, rakyat Indonesia terkenal mudah tersentuh rasa iba, dan hal ini tercermin dalam dukungan yang diberikan meski sebelumnya sempat menolak.
Selain menyoroti proses politik Prabowo, Tiyo juga menyinggung campur tangan politik yang diperlukan untuk memastikan Gibran Rakabuming Raka lolos sebagai calon wakil presiden, yang menurutnya menambah kompleksitas "beban" kepemimpinan.
"Jadi Presiden itu mungkin berat, tapi, ya, lebih berat lagi jadi WNI, to?" tambahnya.
Di sisi lain, Buya Yahya menekankan nilai kebaikan dan kedamaian, terutama di bulan suci Ramadan.
Ia berharap doa masyarakat menjadi energi positif bagi kepemimpinan nasional dan kesejahteraan rakyat.
"Pesan cinta, kita ingin bagaimana Ramadan ini damai dan tenteram. Alhamdulillah, semuanya sudah baik-baik. Ramadan kita jadikan momentum kebaikan, Ramadan damai, Ramadan penuh keindahan," ujarnya.
Kehadiran Buya Yahya dan pernyataan Tiyo Ardianto mencerminkan perbedaan perspektif antara tokoh agama dan mahasiswa dalam menilai dinamika politik nasional, sekaligus menunjukkan pentingnya dialog publik dalam demokrasi.*
(di/ad)
JAKARTA Menjelang momen Ramadan dan Idul Fitri 2026, isu ketahanan energi kembali menjadi sorotan publik. PT Pertamina (Persero) menegaska
EKONOMI
JAKARTA Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut kelapa sawit sebagai &039tanaman ajaib&039 sempat menuai sorotan dan sind
PERTANIAN AGRIBISNIS
JAKARTA Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia, mengungkapkan secara rinci rencana perdamaian Gaza yang disusun oleh
NASIONAL
JAKARTA Mahkamah Agung (MA) menolak permohonan kasasi yang diajukan oleh mantan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Langkat, Saiful Abdi,
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Komisi III DPR RI berencana memanggil penyidik dan jaksa penuntut umum (JPU) yang menangani perkara Fandi Ramadhan, terdakwa kas
HUKUM DAN KRIMINAL
PALEMBANG Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk tetap solid dan tidak mudah terprovokasi oleh
NASIONAL
SINABANG Gempa berkekuatan magnitudo 5,6 mengguncang wilayah Sinabang, Kabupaten Simeulue, Aceh pada Minggu (8/3/2026) sore. Gempa terja
PERISTIWA
JAKARTA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan tidak gentar menghadapi gugatan praperadilan yang kembali diajukan Sekretaris Jend
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Duka mendalam kembali menyelimuti dunia hiburan Tanah Air. Penyanyi Vidi Aldiano meninggal dunia pada Sabtu (7/3/2026) setelah b
ENTERTAINMENT
JAKARTA Pemerintah Indonesia melanjutkan proses sengketa dagang minyak sawit dengan Uni Eropa setelah blok tersebut dinilai belum sepenu
EKONOMI