BREAKING NEWS
Senin, 18 Mei 2026

94% Pekerja Pengetahuan di Indonesia Gunakan AI, Kabar Baik?

- Rabu, 29 Oktober 2025 08:57 WIB
94% Pekerja Pengetahuan di Indonesia Gunakan AI, Kabar Baik?
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Presiden Direktur Hewlett Packard (HP) Indonesia, Juliana Cen, menyebutkan bahwa lebih dari 90% atau tepatnya 94% pekerja pengetahuan (knowledge workers) di Indonesia kini sudah menggunakan kecerdasan buatan (AI) dalam aktivitas sehari-hari mereka.

Angka tersebut tercatat dalam hasil penelitian terbaru yang dilakukan HP, yaitu Indeks Relasi Pekerjaan 2025 (Work Relationship Index/WRI 2025), yang melibatkan lebih dari 18.000 responden dari 14 negara, termasuk Indonesia.

Dalam paparan yang disampaikan pada Rabu, 29 Oktober 2025, Juliana menyatakan, "Berdasarkan survei kami, lebih dari 90% dari karyawan Indonesia sudah menggunakan generative AI (Gen AI)."

Baca Juga:

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia mencatatkan angka penggunaan tertinggi di antara negara-negara yang disurvei, dengan 50% pekerja pengetahuan di Indonesia mengaku memanfaatkan AI setiap hari.

Juliana menjelaskan bahwa para pekerja di Indonesia menggunakan AI untuk beragam keperluan, mulai dari hal-hal sederhana seperti merangkum surat elektronik (email), menulis email, hingga menjawab pertanyaan.

"Sifatnya seperti asisten digital yang membantu pekerjaan sehari-hari mereka," ujar Juliana.

Berdasarkan temuan WRI 2025, sekitar 89% pekerja di Indonesia meyakini bahwa kecerdasan buatan dapat meningkatkan kualitas hidup dan pengalaman kerja mereka.

Teknologi ini dianggap memberikan kemudahan, efisiensi, dan potensi untuk mempermudah tugas-tugas yang sebelumnya memerlukan waktu dan tenaga lebih banyak.

Menurut Juliana, adopsi kecerdasan buatan di Indonesia semakin pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Meskipun konsep AI sudah lama dikenal melalui pembelajaran mesin (machine learning) dan deep learning, gelombang adopsi AI baru mulai terasa setelah munculnya generative AI.

"Orang mulai melihat AI tidak hanya sebagai alat canggih, tetapi juga sebagai mitra kerja yang mempermudah pekerjaan sehari-hari," jelas Juliana.

Perkembangan ini sejalan dengan proyeksi bahwa AI akan semakin mengambil peran penting dalam berbagai sektor pekerjaan pada tahun 2030.

Juliana menambahkan, banyak pekerjaan repetitif yang kini dapat digantikan oleh kecerdasan buatan, karena AI dapat menyelesaikan tugas tersebut dengan lebih cepat dan efisien.

Dalam wawancara terpisah, Juliana memprediksi bahwa pada 2030, agen AI (agentic AI) diperkirakan akan berkontribusi sekitar 12% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, atau sekitar US$366 miliar (Rp6.077 triliun, dengan asumsi kurs Rp16.605/US$).

Kontribusi besar ini menunjukkan potensi besar bagi ekonomi Indonesia, dengan AI yang akan semakin menjadi bagian dari setiap sektor bisnis.

Namun, Juliana juga mengingatkan bahwa meskipun potensi AI sangat besar, perkembangan teknologi ini juga menimbulkan sejumlah tantangan.

Isu terkait keamanan, etika, dan dampaknya terhadap tenaga kerja menjadi perhatian penting yang harus dikelola secara hati-hati agar manfaat AI dapat dinikmati secara maksimal tanpa menimbulkan dampak negatif yang tidak diinginkan.

"Peluangnya besar, tapi kita juga harus sadar tentang potensi tantangan yang ada. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengedepankan kolaborasi antara manusia dan AI, untuk menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan," tandas Juliana.

Dengan tingkat adopsi yang semakin tinggi, Indonesia berada di garis depan dalam pemanfaatan AI di kalangan pekerja pengetahuan.

Ke depan, perkembangan AI yang lebih canggih diharapkan akan mendukung produktivitas dan mendorong kemajuan ekonomi.

Namun, dalam perjalanan ini, tantangan seputar etika dan dampak sosial ekonomi tetap perlu diperhatikan agar integrasi teknologi ini dapat berjalan dengan baik.

Penggunaan AI yang terus berkembang di Indonesia menggambarkan potensi besar yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong inovasi, efisiensi, dan kualitas hidup yang lebih baik.

Namun, seperti yang disampaikan Juliana, kolaborasi antara manusia dan kecerdasan buatan akan menjadi kunci untuk memaksimalkan manfaat dari teknologi yang terus berkembang ini.*


(bb/a008)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Kesiapan Indonesia dalam Menghadapi Aliansi Intelijen Global
Google Luncurkan Desain Ulang AI Studio dengan Fitur Revolusioner “Vibe Coding”
Media Baru vs UU ITE: SMSI Bahas Peran Hukum dalam Era Digital
Riau Mau Jadi Daerah Istimewa! Minta Dana Bagi Hasil Naik Dua Kali Lipat
Sumpah Pemuda dan Tantangan Pemuda Zaman Now
Peringatan Hari Sumpah Pemuda di Desa Hanura: Kepala Desa Ajak Pemuda Berkarya dan Bangun Desa
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru