BREAKING NEWS
Selasa, 31 Maret 2026

Menguak ‘Candi Sawit’: Jejak Kejayaan Kerajaan Pannai Abad ke-11 di Tengah Perkebunan Sumatera Utara

Nurul - Rabu, 04 Februari 2026 10:42 WIB
Menguak ‘Candi Sawit’: Jejak Kejayaan Kerajaan Pannai Abad ke-11 di Tengah Perkebunan Sumatera Utara
Bagian utama Candi Bahal II yang terletak di Desa Bahal, Kecamatan Padang Bolak, Padang Lawas, Sumatera Utara. (Foto: wikipedia)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

PADANG LAWAS, SUMUT – Di tengah hamparan perkebunan sawit yang membentang di Padang Lawas, Sumatera Utara, tersimpan sisa-sisa peradaban yang pernah menggetarkan jalur perdagangan Asia Tenggara.

Jejak Kerajaan Pannai abad ke-11 itu kini dikenal dengan sebutan "Candi Sawit", kompleks percandian dan biara yang masih menyimpan misteri spiritual dan arsitektur kuno.

Meski lokasinya jauh dari pusat kota, situs ini memiliki nilai sejarah tinggi.

Baca Juga:

Koleksi Museum Negeri Sumatera Utara menyimpan dokumentasi lengkap, termasuk arca-arca Bhairava, fragmen arca gajah, dan arca buaya yang menjadi saksi bisu kecanggihan seni dan kepercayaan religius masa itu.

Salah satu situs utama adalah Biara Sipamutung, yang terletak di Desa Siparau, Kecamatan Barumun Tengah, sementara Biara Bahal III berada di Desa Bahal, Portibi.

Kompleks ini menampilkan pagar keliling luas dan bangunan bata merah yang tetap kokoh meski dikepung perkebunan sawit dan pemukiman modern.

Arkeolog F.M. Schnitger mencatat bahwa kawasan ini merupakan pusat aliran Buddhisme Vajrayana atau Tantrayana, yang sarat simbolisme filosofis dan spiritual.

Bahkan, Kerajaan Pannai tercatat dalam prasasti India Selatan, Prasasti Tanjore (1030 M), sebagai wilayah strategis yang sempat digempur Raja Rajendra Chola I dari Colamandala.

Menurut peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo, Pannai memiliki pengaruh internasional meski skalanya lebih kecil dibanding kerajaan besar di Jawa.

Sayangnya, banyak situs asli kini hanya berupa gundukan tanah atau fondasi bata yang terjepit akar sawit.

Kehadiran Candi Sawit menjadi pengingat bahwa Sumatera Utara pernah menjadi pusat peradaban maritim dan spiritual yang mampu membangun struktur kompleks hanya dengan bata merah, tanpa semen, berlandaskan keyakinan religius yang mendalam.

"Menelusuri sejarah Padang Lawas adalah menyingkap lapisan peradaban yang tersembunyi di balik sawit. Candi Sawit bukan sekadar artefak, tetapi saksi kejayaan masa lalu yang patut dilestarikan," ujar Bambang.*

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Doa Bersama dan Tausiyah, Kodim 0502/JU Peringati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW
Misa Awal Tahun di Gunung Padang: Cahaya Malam dan Doa Lintas Iman Menyatu di Situs Megalitikum
Ketakwaan Muslim Teruji Lewat Kepedulian terhadap Lingkungan Hidup
Sigale-gale, Patung Kayu Penari dari Danau Toba yang Menyimpan Misteri Roh Leluhur
PT Padang Tahun Baru 2026: Zikir Bersama dan Lomba Shalawat Aparatur Peradilan
Matakin Medan Dorong Masyarakat Hidup Berbudi Pekerti, Tanamkan Lima Nilai Pokok untuk Kehidupan Harmonis
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru