BREAKING NEWS
Kamis, 02 April 2026

Makna Mendalam Tradisi Tepung Tawar dalam Budaya Melayu: Simbol Kehidupan, Perlindungan, dan Spiritual

Adelia Syafitri - Kamis, 02 April 2026 09:40 WIB
Makna Mendalam Tradisi Tepung Tawar dalam Budaya Melayu: Simbol Kehidupan, Perlindungan, dan Spiritual
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN - Tradisi tepung tawar telah lama menjadi bagian integral dalam budaya Melayu, dengan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar prosesi ritual.

Dalam setiap langkahnya, terdapat simbolisme yang menggambarkan kesejahteraan, keharmonisan sosial, dan kekuatan spiritual yang melingkupi masyarakat.

Budayawan Melayu, M. Muhar, menjelaskan bahwa tradisi ini terdiri dari tiga komponen utama yang masing-masing memiliki filosofi yang penuh makna.

Baca Juga:

Komponen pertama dalam tradisi tepung tawar adalah ramuan penabur, yang terdiri dari bahan-bahan alami yang ditaburkan pada tubuh individu yang tengah menjalani prosesi.

Di antaranya, beras putih, beras kuning, bertih, bunga rampai, serta tepung atau bedak. Masing-masing bahan ini memiliki makna yang mendalam.

Beras putih, misalnya, menjadi simbol kesuburan dan kemakmuran, sementara beras kuning mencerminkan kemuliaan dan kehormatan.

Bertih, yang merupakan nasi goreng kering, menjadi lambang perkembangan dan kemajuan.

Bunga rampai yang harum menandakan keharuman nama dan kebaikan yang terus dikenang, sedangkan tepung atau bedak menggambarkan kesejukan hati yang penuh kedamaian.


"Ramuan penabur ini bukan sekadar bahan yang digunakan, tetapi juga penghubung antara fisik dan makna kehidupan. Tiap elemen memiliki peran dalam menjaga keseimbangan hidup," ujar M. Muhar, yang juga menjelaskan bahwa ramuan ini turut melambangkan harapan bagi kebahagiaan dan kesuksesan masa depan.

Komponen kedua adalah ramuan perincis atau rinjis, yang melibatkan campuran air dan daun-daun simbolik.

Daun sepenuh, sedingin, rumput sambau, kalinjuhang, jejurun, dan pepulut menjadi simbol perlindungan dan kesehatan.

"Daun-daunan ini memiliki fungsi sebagai pelindung, menjaga ketenangan batin dan fisik bagi yang menjalani prosesi," jelas Muhar.

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Nias Selatan Siap Mendunia! Desa Adat Bawomataluo Diusulkan Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO
Bobby Nasution Dorong Kreator Naik Kelas, Pemprov Sumut Fasilitasi HAKI Gratis untuk Pelaku Ekonomi Kreatif
Seskab Teddy Ajak Masyarakat dan Dunia Usaha Dukung Delapan Butir Transformasi Budaya Kerja
Wakil Gubernur Aceh Sambut Kepulangan Juara AKSI Indosiar 2026 dan Kedatangan Cak Imin dengan Adat Aceh di Bandara SIM
Bupati Batu Bara Tinjau Kampung Tenun “Tonun”, Perkuat Eksistensi Songket Batu Bara di Kancah Dunia
Saur Matua: Kematian dalam Tradisi Batak yang Dipandang Sebagai Puncak Kehidupan
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru