Komponen pertama dalam tradisi tepung tawar adalah ramuan penabur, yang terdiri dari bahan-bahan alami yang ditaburkan pada tubuh individu yang tengah menjalani prosesi.
Di antaranya, beras putih, beras kuning, bertih, bunga rampai, serta tepung atau bedak. Masing-masing bahan ini memiliki makna yang mendalam.
Beras putih, misalnya, menjadi simbol kesuburan dan kemakmuran, sementara beras kuning mencerminkan kemuliaan dan kehormatan.
Bertih, yang merupakan nasi goreng kering, menjadi lambang perkembangan dan kemajuan.
Bunga rampai yang harum menandakan keharuman nama dan kebaikan yang terus dikenang, sedangkan tepung atau bedak menggambarkan kesejukan hati yang penuh kedamaian.
"Ramuan penabur ini bukan sekadar bahan yang digunakan, tetapi juga penghubung antara fisik dan makna kehidupan. Tiap elemen memiliki peran dalam menjaga keseimbangan hidup," ujar M. Muhar, yang juga menjelaskan bahwa ramuan ini turut melambangkan harapan bagi kebahagiaan dan kesuksesan masa depan.
Komponen kedua adalah ramuan perincis atau rinjis, yang melibatkan campuran air dan daun-daun simbolik.
Daun sepenuh, sedingin, rumput sambau, kalinjuhang, jejurun, dan pepulut menjadi simbol perlindungan dan kesehatan.
"Daun-daunan ini memiliki fungsi sebagai pelindung, menjaga ketenangan batin dan fisik bagi yang menjalani prosesi," jelas Muhar.