Selain itu, air dan limau purut yang digunakan dalam ramuan rinjis berfungsi sebagai media penyucian, baik secara fisik maupun spiritual, membersihkan segala halangan dan memberikan kedamaian.
"Air dan daun-daunan dalam prosesi ini bukan hanya sebagai bahan perantara, tetapi sebagai simbol penyucian diri dari hal-hal buruk, membawa kedamaian dan keharmonisan," ungkapnya lebih lanjut.
Komponen ketiga dalam tradisi tepung tawar adalah pedupaan atau perasapan.
Asap yang dihasilkan dari dupa atau rempah-rempah menciptakan nuansa sakral dan khidmat dalam prosesi.
"Pedupaan memberikan suasana yang lebih mendalam dalam setiap doa yang diucapkan selama prosesi. Ini merupakan penguat spiritual, menciptakan ikatan rohani antara yang menjalani prosesi dengan kekuatan ilahi," tambahnya.
Tepung tawar tidak hanya dilakukan dalam peristiwa pribadi seperti pernikahan atau kelahiran, tetapi juga dalam berbagai acara penting yang melibatkan masyarakat.
Prosesi ini sering dipadukan dengan tradisi lainnya, seperti Pulut Balai yang melambangkan kemuliaan dan kehormatan, serta Upah-Upah atau Jeput Semangat yang bertujuan untuk mengembalikan semangat seseorang yang telah kehilangan arah atau energi dalam hidupnya.
"Meskipun tepung tawar adalah ritus yang memiliki makna khusus, ia tidak terpisah dari sistem ritual Melayu yang lebih luas. Semua elemen ini bersinergi untuk mendukung keberlangsungan kehidupan, menciptakan keseimbangan antara dunia fisik dan spiritual," tutup M. Muhar.
Dengan filosofi yang kaya dan terstruktur, tradisi tepung tawar merupakan cerminan dari kedalaman budayaMelayu yang terus dilestarikan dan dijaga, sebagai bagian dari ekosistem budaya yang tetap relevan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Melayu.*