Usai Anjlok Tajam, Emas Antam Kini Tertahan Rp2,6 Juta/Gram
JAKARTA Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam yang dijual di Butik Emas Antam pada hari ini, Minggu (2/8/
EKONOMI
MEDAN – Rupiah saat ini menjadi mata uang resmi yang digunakan masyarakat Indonesia dalam setiap aktivitas ekonomi.
Namun, jauh sebelum Rupiah beredar, masyarakat di Sumatera Utara telah mengenal berbagai jenis mata uang yang digunakan pada masa yang berbeda-beda, mulai dari uang kesultanan Melayu, Gulden Hindia Belanda, uang kebon perkebunan, uang pendudukan Jepang, hingga ORIPS yang lahir di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Perjalanan mata uang di Sumatera Utara tidak hanya mencerminkan perkembangan ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi saksi perubahan kekuasaan politik, masa kolonialisme, hingga perjuangan bangsa mempertahankan kedaulatan.Baca Juga:
Sebelum pengaruh kolonial Belanda menguat pada abad ke-19, wilayah Sumatera Timur yang mencakup Kesultanan Deli, Serdang, Langkat, dan Asahan telah menjadi salah satu pusat perdagangan penting di kawasan Selat Malaka.
Aktivitas perdagangan yang ramai membuat berbagai jenis mata uang logam beredar dan digunakan oleh pedagang lokal maupun mancanegara.
Dalam kajian sejarah Kesultanan Deli, wilayah tersebut dikenal memiliki hubungan perdagangan yang luas dengan berbagai daerah di Asia Tenggara.
Kondisi itu mendorong penggunaan alat tukar yang beragam dalam transaksi ekonomi masyarakat.
Memasuki era kolonial Belanda, Gulden Hindia Belanda mulai diperkenalkan sebagai mata uang resmi.
Penggunaannya semakin meluas seiring berkembangnya industri perkebunan tembakau Deli yang menjadi salah satu penggerak utama ekonomi kolonial di Sumatera Timur.
Keberadaan De Javasche Bank pada awal abad ke-20 turut memperkuat peredaran Gulden dan mendukung aktivitas perdagangan serta investasi di wilayah perkebunan.
Namun di balik geliat ekonomi kolonial, muncul pula jenis mata uang yang hanya berlaku di kawasan perkebunan, yakni uang kebon atau token perkebunan.
Uang ini diterbitkan oleh perusahaan perkebunan dan digunakan sebagai alat pembayaran bagi para buruh kontrak.
Berbeda dengan mata uang resmi, uang kebon hanya dapat digunakan di lingkungan perusahaan tempat buruh bekerja.
Sistem tersebut membuat para pekerja bergantung pada perusahaan karena uang yang mereka terima tidak berlaku di luar kawasan perkebunan.
Sejumlah penelitian sejarah mencatat bahwa keberadaan uang kebon menjadi salah satu instrumen yang digunakan perusahaan perkebunan untuk mengontrol tenaga kerja di kawasan perkebunan Deli pada masa itu.
Situasi kembali berubah ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942.
Pemerintah militer Jepang menggantikan Gulden dengan mata uang baru yang dicetak dalam jumlah besar untuk mendukung kebutuhan perang.
Akibat pencetakan uang yang tidak terkendali, nilai mata uang mengalami penurunan tajam dan memicu inflasi di berbagai daerah, termasuk Sumatera Utara.
Daya beli masyarakat merosot dan kondisi ekonomi menjadi semakin sulit menjelang akhir masa pendudukan Jepang.
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, pemerintah Republik menerbitkan Oeang Republik Indonesia (ORI) pada 1946.
Kehadiran ORI tidak hanya bertujuan mengatur sistem ekonomi nasional, tetapi juga menjadi simbol kedaulatan negara yang baru berdiri.
Namun distribusi ORI ke Pulau Sumatera menghadapi berbagai hambatan akibat situasi perang dan blokade yang dilakukan Belanda.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah Republik di Sumatera kemudian menerbitkan Oeang Republik Indonesia Provinsi Sumatera atau ORIPS.
ORIPS menjadi alat pembayaran resmi yang membantu menjaga aktivitas ekonomi masyarakat selama masa revolusi fisik.
Kehadiran uang tersebut juga mempertegas eksistensi pemerintahan Republik Indonesia di Sumatera ketika Belanda berupaya kembali menguasai wilayah Indonesia.
Sejarawan Universitas Sumatera Utara, Budi Agustono, menilai ORIPS memiliki makna yang jauh lebih besar dibanding sekadar alat transaksi ekonomi.
Menurutnya, uang yang diterbitkan pemerintah Republik pada masa perjuangan merupakan simbol kedaulatan bangsa sekaligus bentuk perlawanan terhadap kolonialisme.
Dari uang kesultanan Melayu, Gulden Hindia Belanda, uang kebon perkebunan, uang Jepang, ORI hingga ORIPS, sejarah mata uang di Sumatera Utara menunjukkan bahwa uang bukan hanya alat pembayaran.
Di balik setiap lembar dan keping uang tersimpan cerita tentang perdagangan, kolonialisme, kehidupan buruh perkebunan, serta perjuangan rakyat mempertahankan kemerdekaan hingga lahirnya Rupiah sebagai mata uang nasional Indonesia.*
(d/ad)
JAKARTA Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam yang dijual di Butik Emas Antam pada hari ini, Minggu (2/8/
EKONOMI
JAKARTA Polri memperkuat kiprahnya di kancah internasional melalui partisipasi dalam Konferensi Association of Police Training Institution
NASIONAL
MEDAN PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) resmi menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Pen
EKONOMI
JAKARTA Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tengah membahas tambahan anggaran bagi pemerintah daerah (Pemda) yang kesulitan bayar gaji A
EKONOMI
JAKARTA Setiap muslim tentu mengharapkan rezeki yang halal, berkah, dan datang dari jalan yang tidak disangkasangka. Selain bekerja ker
AGAMA
JAKARTA Penyebab kematian Sutrimo yang ditemukan tidak bernyawa di depan sebuah klinik di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, masih
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Staf administrasi KPK, Setya Budi Dias Oktavianto, ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus dugaan pemerasan terhadap Bupati Pem
NASIONAL
BOGOR Timnas Indonesia akan menghadapi Vietnam dalam pertandingan lanjutan Grup A ASEAN Championship 2026 di Stadion Pakansari, Bogor, S
OLAHRAGA
JAKARTA Pelatih Aston Villa, Unai Emery, memberikan apresiasi terhadap perkembangan sepakbola Indonesia usai timnya meraih kemenangan 3
OLAHRAGA
JAKARTA Pakar politik Universitas Nasional (Unas), Selamat Ginting, menilai kasus yang menjerat mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Kh
NASIONAL