Kemnaker Matangkan Strategi Tripartit Jelang ILC ke-114 di Swiss, Bahas Dampak AI pada Dunia Kerja
JAKARTA Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mematangkan strategi keberangkatan Delegasi Tripartit Indonesia dalam menghadiri Internat
EKONOMI
BITVONLINE.COM –Menambahkan garam ke makanan seringkali dianggap sebagai tindakan sepele yang dilakukan untuk menyesuaikan rasa makanan sesuai selera pribadi. Namun, siapa sangka bahwa hal ini ternyata memiliki etiket tersendiri yang dapat mencerminkan kesopanan atau bahkan ketidaksopanan, tergantung pada konteks dan budaya.
Mengutip Huff Post (3/7/2024), pakar etiket Nick Leighton menyebutkan bahwa menambahkan garam ke makanan yang disajikan oleh tuan rumah bisa dianggap tidak sopan. Hal ini dikarenakan tindakan tersebut dapat diartikan sebagai bentuk keraguan terhadap kemampuan memasak sang tuan rumah.
“Tuan rumah yang sopan tidak akan pernah mengatakan apa pun tentang bumbu yang Anda berikan pada makanan mereka, tetapi mereka hampir pasti akan memperhatikannya dan mencatatnya,” ujar Leighton.
Makna Tersembunyi di Balik GaramMenambahkan garam ke makanan bukan hanya soal preferensi rasa, tetapi juga dapat menyinggung perasaan sang juru masak. Seorang chef yang tersinggung bisa saja menafsirkan bahwa tindakan menambah garam adalah bentuk ketidakpercayaan terhadap keterampilan mereka di dapur. Beberapa bahkan mungkin melihatnya sebagai indikasi karakter si penabur garam.
Sejak dahulu, menabur garam ke makanan telah memiliki makna filosofis tertentu. Di Amerika Serikat, ada cerita terkenal yang sering disebut “tes Henry Ford” atau “tes Thomas Edison.” Kisah ini mengisahkan seorang petinggi perusahaan yang kerap mengajak kandidat pelamar kerja untuk makan malam. Jika pelamar tersebut memberi garam ke makanan sebelum mencicipinya, mereka dianggap gagal mendapat pekerjaan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa mereka berpikiran sempit dan membuat asumsi sebelum mengambil tindakan.
Budaya Berbeda, Norma BerbedaLantas, apakah menambahkan garam ke makanan benar-benar tidak sesuai dengan norma kesopanan? Ternyata jawabannya tidak sesederhana itu. Dalam konteks budaya, salting atau menaburkan garam ke makanan bisa menjadi topik yang rumit dan sensitif.
Pakar etiket Sara Jane Ho mengutip film terkenal tahun 1993, “The Joy Luck Club,” sebagai contoh mengapa pertanyaan etiket ini dapat bergantung pada konteks budaya. Dalam film tersebut, Waverly, yang merupakan orang keturunan China, mengajak pacarnya, Rich, untuk makan malam bersama keluarganya. Sang ibu, Lindo, menyuguhkan makanan dan biasanya akan menghina hidangan yang paling ia banggakan dengan menyebutnya “tidak cukup asin.” Rich yang tidak mengetahui bahwa ungkapan tersebut hanya kiasan, justru menambahkan kecap asin ke makanan, membuat keluarga Waverly terkejut.
Ho menyimpulkan bahwa perbedaan budaya di China dan Amerika Serikat ini bisa menjadi contoh bagaimana kita menyikapi perbedaan dengan bijak. Dalam budaya China, banyak komunikasi dilakukan melalui konteks dan membaca yang tersirat, sedangkan di Amerika Serikat, komunikasi lebih langsung sesuai dengan yang dikatakan.
Etiket yang Tepat: Cicipi Dulu, Baru Tambah GaramPakar etiket lainnya, Nasim Lahbichi, juru masak dan kreator konten asal New York, menekankan bahwa seberapa banyak garam yang diinginkan seseorang sangat bergantung pada makanan yang dinikmati selama tumbuh dewasa atau sesuai usia sekarang karena indera perasa berubah. Selera membumbui makanan sangat bersifat pribadi. Oleh karena itu, mencicipi makanan terlebih dahulu sebelum menambahkan garam adalah aturan umum yang sebaiknya diikuti.
Leighton menambahkan bahwa tidak semua makanan dapat ditambahkan garam sesuai selera. Jika makanan yang disajikan adalah untuk dinikmati bersama, penting untuk bertanya terlebih dahulu kepada orang lain yang juga akan memakannya.
Ho juga mengingatkan agar berhati-hati saat menjawab pertanyaan tuan rumah tentang bumbu yang diinginkan. Jawaban paling aman adalah menggunakan preferensi pribadi dengan mengatakan bahwa Anda memang suka makanan yang lebih banyak garamnya. Dengan demikian, Anda menekankan pada preferensi pribadi dan bukan mengkritik masakan mereka.
Kesimpulan: Bijak dalam Menghadapi PerbedaanPersoalan etiket dalam menambahkan garam ke makanan ternyata lebih kompleks dari yang terlihat. Selain memperhatikan kesopanan, kita juga perlu memahami konteks budaya dan preferensi pribadi. Menjaga kesopanan dengan mencicipi makanan terlebih dahulu sebelum menambahkan garam, serta menghormati usaha dan keterampilan tuan rumah dalam memasak, adalah langkah bijak yang dapat diambil.
Dalam dunia yang semakin terhubung, memahami dan menghargai perbedaan budaya menjadi kunci untuk berinteraksi dengan baik. Jadi, saat Anda diundang makan malam, ingatlah untuk selalu mencicipi makanan terlebih dahulu sebelum menambahkan garam, dan hormati tuan rumah dengan tidak memberikan kritik yang tidak perlu.
(N/014)
JAKARTA Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mematangkan strategi keberangkatan Delegasi Tripartit Indonesia dalam menghadiri Internat
EKONOMI
JAKARTA Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Agus Fatoni, menegaskan komitmennya dalam memperce
EKONOMI
SUMEDANG Unit Pengelola Zakat, Infak, dan Sedekah Ikatan Keluarga Alumni Universitas Padjadjaran (UPZ IKA Unpad) menyalurkan daging kurb
NASIONAL
JAKARTA Badan Gizi Nasional (BGN) mengubah pola distribusi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari enam hari menjadi lima hari dalam sep
NASIONAL
MEDAN Forum Jurnalis Medan menyembelih empat ekor hewan kurban dalam rangka Hari Raya Iduladha 1447 H / 2026 M. Kegiatan yang berlangsun
NASIONAL
BANDA ACEH Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha) menyembelih 14 ekor hewan kurban dalam rangka Hari Raya Iduladha 1447 H / 2026 M. Kegi
NASIONAL
PEKANBARU Penggerebekan pesta narkoba di sebuah tempat hiburan malam di Kota Pekanbaru, Riau, menyeret nama anak Bupati Pelalawan, Zukri
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Pakar telematika Roy Suryo menilai penanganan kasus tudingan ijazah palsu Presiden ke7 RI Joko Widodo berlangsung terlalu lama
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Partai Golkar membela program bantuan 1.098 sapi kurban Presiden Prabowo Subianto yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Be
POLITIK
JAKARTA Permadi Arya alias Abu Janda membantah tudingan penghinaan terhadap masyarakat Sumatera Barat setelah dirinya dilaporkan ke Bare
HUKUM DAN KRIMINAL