Di Sipirok, tonggak sejarah tercatat pada 30 November 1949 saat kekuasaan sipil dan keamanan secara resmi diserahkan oleh pejabat Belanda kepada pemerintah Indonesia, disaksikan rakyat Sipirok yang memenuhi halaman Balai Kota.
Keberanian Letnan Sahala Muda Pakpahan dikenang sebagai simbol perlawanan rakyat terhadap kolonialisme. Pemuda belia ini dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan di wilayah Tapanuli Selatan.
Kini, nama Sahala Muda Pakpahan telah diabadikan di berbagai tempat. Stadion di Sipirok dan sebuah jalan utama di Padang Sidempuan telah diberi nama sesuai namanya, sebuah penghargaan atas keberanian dan pengorbanannya yang luar biasa.
Hingga saat ini, klaim mengenai keterlibatan langsung Sahala Muda Pakpahan dalam kematian Jenderal Spoor masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Versi resmi pemerintah Belanda tetap menyatakan penyebab kematian Spoor adalah serangan jantung.
Namun kisah rakyat dan dokumentasi lokal memberi gambaran berbeda yang hidup dalam memori kolektif masyarakat Tapanuli.*