BREAKING NEWS
Kamis, 18 Juni 2026

Raja Inal Siregar: Gubernur Sumut yang Tutup Usia dalam Tragedi Pesawat Mandala, Tinggalkan Warisan “Marsipature Hutana Be”

Dharma - Rabu, 17 Juni 2026 09:12 WIB
Raja Inal Siregar: Gubernur Sumut yang Tutup Usia dalam Tragedi Pesawat Mandala, Tinggalkan Warisan “Marsipature Hutana Be”
Raja Inal Siregar. (foto: Wikipedia)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN — Nama Raja Inal Siregar menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan sejarah pemerintahan Sumatera Utara.

Ia dikenal sebagai Gubernur Sumatera Utara ke-13 yang memimpin provinsi ini pada periode 1988 hingga 1998.

Lebih dari sekadar seorang birokrat, Raja Inal Siregar meninggalkan gagasan yang hingga kini masih dikenang masyarakat, yakni "Marsipature Hutana Be".

Baca Juga:

Istilah yang berasal dari pepatah Batak tersebut memiliki makna ajakan untuk saling membangun dan membenahi kampung halaman masing-masing.

Gagasan itu ditujukan kepada masyarakat yang telah sukses di perantauan agar turut memberikan kontribusi bagi daerah asalnya.

Raja Inal Siregar lahir pada 5 Maret 1938 dari pasangan Kario Siregar dan Rodiah Harahap.

Ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah di sejumlah daerah di Sumatera Utara dan Sumatera Barat sebelum melanjutkan pendidikan militer.

Ia berhasil menyelesaikan pendidikan di Akademi Militer pada 1961.

Setelah itu, perjalanan kariernya di dunia militer terus berkembang hingga dipercaya menduduki berbagai jabatan strategis.

Karier militernya dimulai dari penugasan di Kalimantan Tengah.

Ia kemudian pernah menjabat sebagai Komandan Kompi Yonif B Purwokerto, Kepala Biro Operasi Kowanda Ujung Pandang, Wakil Asisten I/Intelijen Kodam II/Bukit Barisan, hingga Asisten I/Intelijen di sejumlah wilayah militer.

Raja Inal juga pernah menjabat sebagai Pangdam XIII/Merdeka di Manado dan Pangdam III/Siliwangi di Bandung sebelum dipercaya menjadi Gubernur Sumatera Utara.

Saat memimpin Sumatera Utara, ia dikenal sebagai sosok yang mendorong pembangunan daerah serta memperkuat hubungan antara masyarakat perantauan dengan kampung halaman.

Salah satu warisan penting dari pemikirannya adalah pendirian Yayasan Pendidikan Marsipature Hutana Be (YPMHB).

Yayasan tersebut mengelola SMA Negeri 2 Plus YPMHB Sipirok di Kabupaten Tapanuli Selatan yang didirikan pada 1995 bersama masyarakat setempat.

Sekolah tersebut menjadi salah satu upaya Raja Inal dalam meningkatkan kualitas pendidikan bagi generasi muda di daerah.

Perjalanan hidup Raja Inal Siregar berakhir tragis pada 5 September 2005.

Saat itu, ia meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat Mandala Airlines di Jalan Jamin Ginting, Medan.

Dalam kecelakaan tersebut, pesawat Boeing 737-200 dengan nomor penerbangan RI-091 jatuh sesaat setelah lepas landas dari Bandara Polonia Medan menuju Jakarta melalui Padang.

Peristiwa itu menewaskan seluruh penumpang, awak pesawat, serta sejumlah warga di sekitar lokasi kejadian.

Raja Inal meninggal bersama Gubernur Sumatera Utara yang menggantikannya, Tengku Rizal Nurdin.

Jenazah Raja Inal Siregar dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Bukit Barisan, Medan.

Upacara pemakaman dihadiri keluarga, pejabat daerah, unsur TNI, serta ribuan masyarakat yang memberikan penghormatan terakhir.

Hingga kini, nama Raja Inal Siregar tetap dikenang melalui gagasan "Marsipature Hutana Be", sebuah pesan agar keberhasilan seseorang tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi juga dikembalikan untuk membangun daerah asal.

Bagi masyarakat Sumatera Utara, Raja Inal bukan hanya seorang mantan gubernur, tetapi juga tokoh yang meninggalkan nilai tentang kepedulian, pendidikan, dan pengabdian kepada kampung halaman.*


(wpss)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Istana Ungkap Strategi Pemerintah Jaga Kepercayaan Publik di Tengah Aksi Demonstrasi Mahasiswa
Gedung London Sumatera di Kesawan, Bangunan Bersejarah dengan Lift Pertama di Kota Medan
Mengapa Orang yang Tak Berdarah Batak Bisa Memiliki Marga Batak? Ini Penjelasannya
Bupati Asahan Apresiasi MTQ ke-40 Sumut, Perkuat Cinta Al-Qur’an dan Ukhuwah Islamiyah
Pemprov Sumut Perkuat Perang Melawan Narkoba, Razia hingga Rehabilitasi Digencarkan
Rico Waas Tekankan Ulama sebagai Kompas Moral, Bukan Alat Kepentingan Sesaat
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru