Kawal Proyek Peta Dasar Rp 4,7 Triliun BIG dari Bank Dunia, Kejagung Pasang Badan Mencegah Korupsi
JAKARTA Kejaksaan Agung melalui Jaksa Agung Muda Intelijen (JAMIntel) Reda Manthovani bersama Badan Informasi Geospasial (BIG) mengawal p
NASIONAL
SOLO - Warganet dihebohkan oleh kabar mengejutkan bahwa warung makan legendaris di Solo, Ayam Goreng Widuran, ternyata menyajikan makanan non-halal.
Informasi ini terungkap lewat ulasan pelanggan di Google Review yang menyebut bahwa ayam goreng di tempat tersebut dimasak menggunakan minyak babi.
Kontroversi ini memicu gelombang kekecewaan dari pelanggan, terutama yang beragama Islam. Banyak yang mengaku sering makan di warung tersebut tanpa diberi tahu bahwa makanan yang disajikan tidak halal.
Salah satu pelanggan, Teguh Budi***, mengungkapkan kekecewaannya melalui Google Review. Ia merasa tidak mendapat informasi yang jujur dan transparan saat datang bersama keluarganya.
"Awal datang sudah curiga karena tamu lain menatap kami. Langsung cek Google Review, terus tanya karyawan yang mau goreng ayam, dan jreng! Ternyata NON-HALAL. Seketika saya langsung batalkan pesanan," tulisnya.
Pelanggan lain, Yuyun Novita, juga menyayangkan kurangnya informasi yang diberikan kepada pengunjung. Ia menilai penting bagi restoran mencantumkan status non-halal secara jelas demi menghormati keyakinan konsumen.
"Dan yang bikin shock ternyata makanan di sini enggak halal. Padahal saya makan di sana pakai hijab. Kenapa pegawainya tidak ada yang memberi tahu saya?" tulisnya.
Menanggapi viralnya kontroversi ini, manajemen Ayam Goreng Widuran melalui akun Instagram resmi @ayamgorengwiduransolo menyampaikan permintaan maaf kepada publik.
Dalam pernyataannya, pihak restoran mengakui bahwa makanan yang mereka sajikan tidak halal, dan menyatakan tengah mengambil langkah untuk memperbaiki komunikasi kepada pelanggan.
"Kami akan segera mencantumkan keterangan 'NON-HALAL' di seluruh outlet dan juga di media sosial resmi kami agar tidak terjadi lagi kesalahpahaman," tulis manajemen.
Kontroversi ini pun menjadi bahan diskusi hangat di media sosial. Banyak netizen menuntut transparansi dari setiap pelaku usaha kuliner, terutama di wilayah mayoritas Muslim seperti Solo.
Beberapa bahkan menyerukan agar pemerintah daerah dan MUI lebih aktif dalam pengawasan terhadap pelabelan makanan halal dan non-halal.*
JAKARTA Kejaksaan Agung melalui Jaksa Agung Muda Intelijen (JAMIntel) Reda Manthovani bersama Badan Informasi Geospasial (BIG) mengawal p
NASIONAL
JAKARTA Akademisi Rocky Gerung menyoroti gugatan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) terkait syarat pendidikan pencalonan Gibran Rakab
POLITIK
MEDAN Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menegaskan pelestarian budaya dan cagar budaya merupakan tanggung jawab bersama. Menurutnya,
PEMERINTAHAN
MEDAN Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mengapresiasi inovasi sosial yang digagas Kecamatan Medan Denai melalui program ANJELI dan K
PEMERINTAHAN
MEDAN Kualitas udara di Kota Medan dilaporkan memburuk akibat sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatera Utara. Wali Kota Medan Rico Waas me
KESEHATAN
BANDA ACEH Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Aceh memperkuat komitmen memberikan pelayanan yang semakin humanis dan profesional kep
PERISTIWA
MEDAN Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Utara (Sumut) memasok beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta Minyakita dalam keg
EKONOMI
JAKARTA PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM meraih delapan penghargaan dalam ajang Environmental and Social Innovation Awar
NASIONAL
MEDAN Ketua Umum Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN) Adardam Achyar mempertanyakan pemidanaan terhadap surat yang dibuat advokat dalam menjal
POLITIK
MANDAILING NATAL Foto mobil dinas Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) digunakan untuk mengangkut
PERISTIWA