Bukan Tak Percaya Dokter Indonesia, Ini Alasan Naniek Deyang Pilih Berobat ke Luar Negeri
JAKARTA Mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Naniek Sudaryati Deyang, mengungkap alasan memilih menjalani pengobatan penyakit jantun
KESEHATAN
Jakarta – Presiden Prabowo Subianto meminta agar kebijakan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) berbasis zonasi dikaji lebih mendalam. Pernyataan ini disampaikan usai pertemuan antara Prabowo dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, di Istana Negara, Selasa (26/11/2024).
Usulan untuk menghapuskan sistem zonasi dalam PPDB sebelumnya disampaikan oleh Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka. Menanggapi hal ini, Prabowo menginstruksikan kepada Abdul Mu’ti untuk memperdalam kajian terkait kebijakan tersebut. Keputusan final mengenai pelaksanaan sistem zonasi dalam PPDB akan dibahas lebih lanjut dalam sidang kabinet.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan audiensi dengan kepala dinas pendidikan serta pakar pendidikan di berbagai daerah. Hasil kajian tersebut, lanjutnya, akan segera disampaikan ke Presiden Prabowo, dan nantinya akan dibahas lebih lanjut dalam sidang kabinet.
“Kami sudah melakukan beberapa audiensi dengan kepala dinas pendidikan dan pakar-pakar terkait, serta mendalami implementasi PPDB zonasi. Hasil kajian ini akan kami sampaikan kepada Presiden dan keputusannya akan diputuskan dalam sidang kabinet,” ujar Mu’ti dalam keterangannya.
Sebelumnya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengungkapkan keinginannya agar sistem PPDB zonasi dihapuskan, menyusul berbagai keluhan masyarakat terkait penerapannya. Gibran menyatakan bahwa kebijakan ini memiliki tantangan besar, terutama terkait ketimpangan fasilitas pendidikan di berbagai wilayah.
Namun, keputusan untuk menghapus sistem zonasi tidak disetujui secara bulat oleh semua pihak. Anggota Komisi X DPR, Hetifah Sjaifudian, menilai bahwa kebijakan zonasi memiliki tujuan yang baik, yakni untuk mengurangi ketimpangan kualitas pendidikan dan mencegah diskriminasi. Namun, dia juga menyadari adanya tantangan dalam implementasinya.
Hetifah berpendapat bahwa jika sistem zonasi dianggap tidak efektif, maka perlu ada alternatif yang lebih adil, seperti seleksi berbasis nilai atau memperbesar porsi jalur afirmasi bagi siswa dari keluarga kurang mampu. Ia juga mengusulkan agar pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan secara merata di seluruh wilayah, mengingat ketimpangan fasilitas dan kualitas pendidikan yang masih ada di banyak daerah.
“Zonasi diperkenalkan untuk mengurangi ketimpangan dan diskriminasi, namun memang ada tantangan dalam implementasinya. Untuk itu, perlu ada eksplorasi terhadap alternatif yang lebih adil, termasuk memperkuat jalur prestasi dan porsi afirmasi,” jelas Hetifah.
Selain itu, Hetifah juga menyarankan agar sekolah swasta turut dilibatkan dalam memperbaiki sistem PPDB. Sekolah swasta dapat memberikan beasiswa atau subsidi untuk siswa dari keluarga tidak mampu dan membantu meringankan tekanan pada sekolah negeri.
Di sisi lain, Hetifah juga mendorong pemerintah untuk mempercepat pemerataan sarana dan prasarana pendidikan, sehingga setiap sekolah memiliki kualitas yang setara dan dapat mengakomodasi siswa dari berbagai daerah. Untuk itu, pemerintah perlu berkolaborasi dengan sektor swasta dan pihak-pihak terkait dalam menyediakan fasilitas pendidikan yang memadai di seluruh wilayah Indonesia.
“Komisi X mendesak pemerataan sarana dan prasarana pendidikan agar kualitas pendidikan merata. Ini akan berdampak pada kelancaran implementasi kebijakan PPDB zonasi,” ujarnya.
Rencananya, Presiden Prabowo Subianto dan pemerintah akan segera mengadakan sidang kabinet untuk membahas lebih lanjut mengenai kebijakan PPDB zonasi dan berbagai alternatif solusi yang dapat diambil. Masyarakat dan berbagai pihak diharapkan dapat terus memberikan masukan untuk memastikan kebijakan pendidikan yang adil dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia.
(johansirait)
JAKARTA Mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Naniek Sudaryati Deyang, mengungkap alasan memilih menjalani pengobatan penyakit jantun
KESEHATAN
MEDAN Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Sumatera Utara mengungkap dugaan sementara penyebab ledakan yang menghancurkan sebuah rum
PERISTIWA
JAKARTA Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada Rabu (22/7/2026). Pengunduran di
NASIONAL
JAKARTA Pemerintah mulai mematangkan skema baru penyaluran bantuan sosial (bansos) melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
NASIONAL
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto mengevaluasi gaya komunikasi Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo. Istana Kepresidenan meminta Do
NASIONAL
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan memimpin Upacara Prasetya Perwira (Praspa) TNIPolri Tahun 2026 di Istana Merdeka, Jakarta
NASIONAL
NIAS UTARA Budidaya rumput laut menjadi salah satu motor penggerak ekonomi masyarakat di Kabupaten Nias Utara. Melihat potensi tersebut,
EKONOMI
JAKARTA Polda Metro Jaya memastikan akan memanggil advokat Hotman Paris Hutapea terkait laporan dugaan penghinaan terhadap profesi wartaw
NASIONAL
JAKARTA Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) tidak jadi dibubarkan. Keputusan terseb
EKONOMI
BATU BARA PT INALUM (Persero) kembali membuka Program Magang Mahasiswa Tahun 2026 sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung pen
PENDIDIKAN