Ia juga menyinggung praktik hidup berdampingan di sejumlah daerah, termasuk di luar negeri seperti Mesir, di mana umat Islam dan Kristen dapat hidup rukun dalam satu masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Azhar menekankan pentingnya peran tokoh masyarakat dan nilai-nilai adat dalam menjaga keseimbangan antara syariat dan kehidupan sosial.
Ia menyebut prinsip lokal seperti "adat bak po teumeureuhom, hukom bak syiah kuala" sebagai salah satu fondasi harmoni di Aceh.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa toleransi dapat terbangun melalui berbagai faktor, seperti pengalaman hidup berdampingan, ikatan keluarga, hingga nilai adat yang mengajarkan saling menghormati.
Selain itu, masyarakat juga perlu bijak dalam menjaga isu-isu sensitif agar tidak memicu konflik.
"Toleransi bukan berarti mengaburkan keyakinan, tetapi menghormati perbedaan tanpa kehilangan prinsip," ujarnya.
Azhar mengajak masyarakat untuk terus menjaga nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari agar tercipta keharmonisan di tengah keberagaman.*