JAKARTA - Kisah sahabat Nabi Muhammad SAW, Nu'aiman bin Umar Al-Ansari, kembali menjadi perhatian karena menggambarkan sisi lain kehidupan sosial para sahabat yang kerap diwarnai humor, sekaligus ujian kedewasaan dalam bersikap.
Dalam sejumlah literatur Islam, salah satunya disebut dalam buku Karamah Para Wali karya A. R. Shohibul Ulum, Nu'aiman dikenal sebagai sahabat yang jenaka dan beberapa kali membuat Rasulullah SAW tersenyum, meski tak jarang ulahnya menimbulkan persoalan yang harus diselesaikan dengan bijaksana.
Salah satu kisah yang paling sering dikutip adalah ketika seorang tamu Badui datang ke masjid dengan menambatkan untanya di depan masjid untuk bertemu Rasulullah SAW.
Saat sang tamu sedang berbincang dengan Nabi, Nu'aiman bersama beberapa sahabat lainnya melihat unta tersebut.
Dalam kisah itu, terjadi kesepakatan di antara sebagian sahabat untuk menyembelih hewan tersebut tanpa sepengetahuan pemiliknya.
Nu'aiman kemudian ikut terlibat dalam tindakan itu, hingga membuat sang pemilik unta marah dan menuntut pertanggungjawaban.
"Untaku, Muhammad. Untaku disembelih lelaki keparat itu!" teriak sang tamu Badui sebagaimana dikisahkan dalam riwayat tersebut.
Rasulullah SAW kemudian menelusuri kejadian itu dan menanyakan siapa pelakunya.
Para sahabat menyebut nama Nu'aiman, yang saat itu bersembunyi karena menyadari kesalahan yang telah terjadi.
Setelah ditemukan, Rasulullah SAW menanyakan alasan di balik tindakannya.
Nu'aiman menjelaskan bahwa ia hanya mengikuti ajakan sahabat lain, yang bahkan menyebut bahwa Rasulullah akan menanggung persoalan jika terjadi masalah.
Mendengar penjelasan tersebut, Rasulullah SAW disebut menghela napas dan tersenyum, meski tetap menunjukkan sikap tegas terhadap persoalan yang merugikan orang lain.
Dalam beberapa riwayat populer, Rasulullah SAW bahkan menyampaikan bahwa Nu'aiman kelak akan masuk surga dengan penuh kegembiraan.
Kisah ini kerap dipahami sebagai gambaran keseimbangan antara humor di kalangan sahabat, tanggung jawab atas kesalahan, serta kebijaksanaan Rasulullah SAW dalam menyelesaikan konflik tanpa menghilangkan nilai keadilan dan adab terhadap tamu.*