BREAKING NEWS
Minggu, 31 Mei 2026

Kyai Said Aqil Siroj: Hawa Nafsu Lebih Sulit Dilawan daripada Godaan Setan

gusWedha - Minggu, 31 Mei 2026 14:38 WIB
Kyai Said Aqil Siroj: Hawa Nafsu Lebih Sulit Dilawan daripada Godaan Setan
Ulama kharismatik Indonesia, Said Aqil Siroj. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Ulama kharismatik Indonesia, Said Aqil Siroj, mengingatkan pentingnya menjaga diri dari dorongan hawa nafsu yang dinilai menjadi tantangan terbesar dalam kehidupan manusia.

Dalam tausiyah yang disampaikan kepada jamaah, Kyai Said menjelaskan bahwa inspirasi atau dorongan yang masuk ke dalam diri manusia memiliki empat sumber yang berbeda, yakni berasal dari Allah, malaikat, setan, dan hawa nafsu.

Menurut dia, apabila dorongan tersebut datang dari Allah, maka disebut sebagai hidayah yang akan mengarahkan manusia kepada kebaikan dan jalan yang benar.

Baca Juga:

Sementara itu, apabila datang dari malaikat, dorongan tersebut berupa ilmu pengetahuan, kecerdasan, dan kebijaksanaan yang membimbing manusia dalam memahami berbagai persoalan kehidupan.

"Jika datang dari Allah namanya hidayah. Jika datang dari malaikat namanya ilmu atau kecerdasan yang membimbing manusia kepada pemahaman dan kebijaksanaan," ujar Kyai Said.

Ia menjelaskan, sumber ketiga berasal dari setan yang dikenal sebagai wasawis atau bisikan-bisikan yang mengajak manusia melakukan penyimpangan.

Namun, menurutnya, godaan tersebut masih relatif lebih mudah dilawan dibandingkan dorongan yang berasal dari hawa nafsu.

Kyai Said menegaskan bahwa sumber dorongan yang paling sulit dikendalikan adalah hawajis atau dorongan hawa nafsu yang berasal dari dalam diri manusia sendiri.

Menurut dia, berbagai tindakan kejahatan yang dilakukan secara terencana, sistematis, dan penuh perhitungan sering kali bukan semata-mata dipicu oleh godaan setan, melainkan oleh dorongan hawa nafsu yang tidak terkendali.

"Ketika seseorang melakukan kejahatan secara terencana, tersusun baik dan rapi, itu bukan semata-mata godaan setan, melainkan dorongan dari nafsunya sendiri," katanya.

Ia menambahkan, tarikan hawa nafsu dapat muncul kapan saja dan di mana saja, baik ketika seseorang berada di rumah, tempat kerja, maupun di lingkungan ibadah sekalipun.

Karena itu, pengendalian diri menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga kualitas keimanan seseorang.

Menurut Kyai Said, mereka yang mampu mengalahkan dorongan hawa nafsu adalah orang-orang yang telah mencapai tingkat kebijaksanaan dan ma'rifat kepada Allah.

Orang yang telah merasakan keindahan iman dan ihsan, kata dia, akan lebih mudah menjaga diri dari berbagai godaan yang dapat menjauhkan manusia dari nilai-nilai kebaikan.

Meski demikian, Kyai Said mengingatkan bahwa sebesar apa pun dosa manusia, pintu taubat selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin kembali kepada Allah.

Ia menegaskan bahwa Allah senantiasa memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk memperbaiki diri selama masih memiliki penyesalan atas kesalahan yang telah dilakukan dan bertekad untuk tidak mengulanginya kembali.

"Dosa manusia sebanyak apa pun tetaplah sesuatu yang bisa dihitung. Tetapi ampunan Allah tidak terbatas. Kasih sayang dan maghfirah-Nya melampaui segala dosa hamba-Nya," ujarnya.

Di akhir pesannya, Kyai Said mengajak umat Islam untuk tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah.

Ia menekankan pentingnya terus memperbaiki diri, menjaga keimanan, serta berusaha melawan dorongan hawa nafsu yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan yang merugikan.

Menurut dia, jalan kembali kepada Allah selalu terbuka bagi setiap hamba yang datang dengan hati yang tulus dan keinginan untuk berubah menjadi lebih baik.

"Yang terpenting adalah terus memperbaiki diri, melawan tarikan hawa nafsu, menjaga iman, dan kembali kepada Allah dengan hati yang tulus," kata Kyai Said.*


(ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Jemaah Haji Bangkalan Sempat Tak Terima Makanan di Mina, Kemenhaj Buka Suara
Idul Adha, Momentum Menyembelih Sifat Kebinatangan demi Meraih Derajat Takwa
Ini Tanda-Tanda Rezeki Tidak Berkah Menurut Islam!
Momentum Idul Adha dan Hari Tasyrik: Ajakan Memperkuat Takwa dan Silaturahmi
Ketua PBNU Nilai Bantuan Sapi Kurban Presiden dari APBN Sah, Asal Tepat Sasaran
Sang Naualuh Damanik dan Jejak Awal Penyebaran Islam di Simalungun
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru