BREAKING NEWS
Rabu, 15 Juli 2026

Lebih Cepat 500 Tahun, Mengapa Kaum Fakir dan Miskin Lebih Dulu Masuk Surga?

Adelia Syafitri - Rabu, 15 Juli 2026 07:41 WIB
Lebih Cepat 500 Tahun, Mengapa Kaum Fakir dan Miskin Lebih Dulu Masuk Surga?
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Di balik beratnya garis kehidupan di dunia, Islam memberikan kedudukan dan keutamaan tersendiri bagi hambanya yang kekurangan harta.

Dalam sejumlah literatur hadits, kaum fakir dan miskin diprediksi akan menginjakkan kaki di surga jauh lebih awal ketimbang kelompok orang kaya.

Salah satu pijakan kuat mengenai fenomena ini bersumber dari riwayat Abu Hurairah RA.

Baca Juga:

Dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah SAW memberikan estimasi waktu yang spesifik terkait selisih waktu masuknya kedua golongan ini ke dalam surga.

"Orang-orang fakir dari kaum muslimin masuk surga setengah hari, yaitu lima ratus tahun sebelum orang-orang kaya dari mereka," demikian sabda Rasulullah SAW.

Berdasarkan penelusuran Imam an-Nawawi dalam kitab An-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim, riwayat serupa juga dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dengan status hadits hasan shahih.

Alasan logis di balik cepatnya proses ini dikupas secara mendalam oleh Imam Syamsuddin Al-Qurthubi dalam kitab At-Tadzkirah.

Karakteristik utama yang membuat orang fakir melenggang tanpa hambatan ke surga adalah ketiadaan harta benda yang perlu dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Dalam sebuah dialog teologis yang digambarkan dalam riwayat tersebut, tergambar jelas bagaimana proses interaksi antara malaikat penjaga surga dan kaum fakir yang taat.

Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, "Siapakah orang-orang yang pertama-tama masuk surga?"

Rasulullah SAW menjawab, "Orang-orang fakir mendahului yang lain menuju surga. Maka keluarlah beberapa malaikat dari dalam surga menemui mereka seraya berkata, 'Kembalilah kamu sekalian untuk dihisab.'

Tapi orang-orang fakir menjawab, 'Atas apa kami dihisab? Demi Allah, di dunia kami tidak dibanjiri harta, sehingga tidak ada yang kami genggam atau berikan. Kami juga bukan para pemimpin, yang harus adil atau zalim. Kami hanya kedatangan perintah Allah, maka kami menyembah-Nya, sampai maut datang kepada kami.'

Editor
: Abyadi Siregar
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Menag Ungkap Alasan Indonesia Berpeluang Jadi Pusat Baru Peradaban Islam Dunia
Menunggu Kerabat Datang, Apakah Pemakaman Jenazah Boleh Ditunda? Ini Jawaban Islam
Sebut BUMN Sumber Korupsi, Prabowo Ingatkan Koruptor: Hentikan! Kembalikan Kekayaan Rakyat
Ini Lima Kesalahan Pola Pikir yang Menghambat Kehidupan Menurut Islam
Menag Nasaruddin Umar: Belajar Al-Qur'an Bukan Sekadar Menambah Ilmu, tetapi Mendekatkan Diri kepada Allah
Prabowo Tegaskan Tak Ada yang Kebal Hukum, Orang Berkuasa hingga Orang Kaya Harus Taat Aturan
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru
Siapa Menjaga Para Penjaga?

Siapa Menjaga Para Penjaga?

OlehDarwin DarmawanPENYAIR satiris Romawi, Juvenal, pernah menceritakan kisah tentang seorang suami yang begitu curiga terhadap kesetiaan i

OPINI