Wakapolda Aceh Sambut Kepala BGN Sudaryono, Tinjau Program MBG dan Lantik Pengurus HKTI Aceh
BANDA ACEH Wakapolda Aceh Brigjen Pol. Ari Wahyu Widodo menyambut kedatangan Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Himpunan Kerukunan
NASIONAL
JAKARTA - Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum yang diperingati umat Islam di berbagai daerah dan negara. Peringatan ini umumnya dikaitkan dengan 12 Rabiul Awal, tanggal yang banyak diyakini sebagai hari kelahiran Rasulullah SAW pada Tahun Gajah.
Tradisi Maulid Nabi berkembang dalam berbagai bentuk. Umat Islam ada yang mengisinya dengan pembacaan selawat, kajian sirah Nabi, pengajian, santunan anak yatim dan fakir miskin, hingga tradisi budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Lantas, sejak kapan Maulid Nabi mulai diperingati?Baca Juga:
Dalam literatur sejarah Islam terdapat sejumlah teori mengenai asal-usul tradisi tersebut. Salah satu teori menyebut peringatan Maulid mulai berkembang pada masa Dinasti Ubaid atau Fatimiyyah di Mesir yang berkuasa pada 362-567 Hijriah.
Pada masa tersebut, berbagai perayaan keagamaan diselenggarakan oleh pemerintahan Dinasti Fatimiyyah. Selain Maulid Nabi Muhammad SAW, dikenal pula perayaan yang dikaitkan dengan Ali bin Abi Thalib, Fatimah az-Zahra, Hasan, Husain hingga khalifah yang sedang berkuasa.
Teori lain mengaitkan perkembangan peringatan Maulid dengan Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri, penguasa Irbil di Irak. Dalam sejumlah riwayat, ia disebut menggelar peringatan Maulid secara besar-besaran dengan menghadirkan ulama, ahli tasawuf, cendekiawan dan masyarakat.
Peringatan tersebut tidak hanya diisi ceramah. Masyarakat juga mendapatkan makanan, hadiah dan sedekah. Dari tradisi itulah Maulid kemudian berkembang sebagai momentum untuk mengekspresikan kecintaan kepada Rasulullah sekaligus berbagi dengan sesama.
Ada pula teori yang mengaitkan Maulid dengan Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi. Dalam sejumlah narasi, peringatan tersebut digunakan untuk membangkitkan semangat keagamaan dan persatuan umat dalam menghadapi Perang Salib.
Sementara riwayat lainnya menghubungkan tradisi tersebut dengan Sultan Muhammad Al-Fatih. Karena terdapat sejumlah teori mengenai asal-usulnya, sejarah awal Maulid Nabi hingga kini menjadi bagian dari pembahasan dan perdebatan di kalangan sejarawan serta ulama.
Di Indonesia, tradisi Maulid berkembang melalui proses akulturasi dengan budaya lokal. Salah satu tradisi yang kerap dikaitkan dengan dakwah Wali Songo adalah Sekaten yang berkembang di tanah Jawa.
Selain Sekaten, terdapat pula Gerebeg Maulud yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Jawa. Prosesi tersebut biasanya disertai pengarakan gunungan berisi hasil bumi dan makanan sebagai simbol rasa syukur.
Di berbagai daerah lainnya, Maulid Nabi dirayakan dengan bentuk yang berbeda. Ada yang menitikberatkan pada pembacaan selawat dan sirah Nabi, sementara daerah lain mempertahankan tradisi budaya yang telah berlangsung secara turun-temurun.
Bagi ulama yang membolehkan peringatan Maulid, momentum tersebut dapat dijadikan sarana untuk mengingat risalah Nabi Muhammad SAW, mempelajari perjalanan hidup beliau serta meneladani akhlaknya.
Hadis riwayat Imam Muslim dari Abu Qatadah RA juga kerap dijadikan rujukan. Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Senin merupakan hari beliau dilahirkan ketika ditanya mengenai alasan berpuasa pada hari tersebut.
"Itu adalah hari di mana aku dilahirkan."
Dari hadis tersebut, sebagian ulama berpandangan bahwa mengingat kelahiran Nabi dapat dilakukan melalui ibadah dan ungkapan syukur kepada Allah SWT.
Al-Qur'an juga menekankan pentingnya beriman, memuliakan dan mengikuti Rasulullah SAW. Salah satu ayat yang sering dikaitkan dengan hal tersebut adalah Surah Al-A'raf ayat 157.
Namun, peringatan Maulid Nabi juga mendapat kritik dari sebagian ulama. Mereka menilai tradisi tersebut tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, para sahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in maupun empat imam mazhab.
Pandangan ini didasarkan antara lain pada catatan sejarah bahwa peringatan Maulid baru muncul beberapa abad setelah masa Rasulullah SAW. Sejumlah ulama juga mengkritisi praktik perayaan yang berkembang pada masa Dinasti Fatimiyyah karena dinilai memiliki latar belakang politik dan keagamaan tertentu.
Kelompok yang mengkritisi Maulid juga menekankan pentingnya mengikuti praktik generasi awal Islam sebagai bentuk kehati-hatian dalam menjalankan ibadah. Mereka mengingatkan agar kegiatan keagamaan tidak memasukkan unsur yang tidak memiliki dasar dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa sejarah dan hukum peringatan Maulid Nabi memiliki pembahasan yang cukup panjang di kalangan ulama. Ada kelompok yang membolehkannya selama diisi dengan kegiatan yang sesuai syariat, seperti selawat, sedekah, kajian dan amal kebaikan. Ada pula yang tidak membolehkannya karena tidak menemukan praktik tersebut pada generasi awal Islam.
Terlepas dari perbedaan tersebut, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW pada akhirnya diharapkan tidak berhenti pada peringatan tahunan. Umat Islam dapat menjadikan momentum tersebut untuk mempelajari sirah, memperbaiki akhlak, memperbanyak selawat serta meneladani ajaran Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.* (d/dh)
BANDA ACEH Wakapolda Aceh Brigjen Pol. Ari Wahyu Widodo menyambut kedatangan Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Himpunan Kerukunan
NASIONAL
MEDAN Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution mengajak Kepolisian Daerah Sumatera Utara memperkuat kerja sama dalam pembera
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto mengaku sempat mengira kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia masih meluas hingga ratusan r
NASIONAL
JAKARTA Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menempati posisi terbawah dalam daftar menteri dengan penilaian t
POLITIK
JAKARTA POCO dikabarkan tengah menyiapkan ponsel pintar baru dari seri X8, yakni POCO X8s. Perangkat ini kembali menjadi sorotan setelah
SAINS DAN TEKNOLOGI
JAKARTA Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) Syahganda Nainggolan menyatakan Wakil Presiden Gibran Rakabumin
POLITIK
JAKARTA Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPR RI akan mengkaji usulan pembentukan hak angket terkait polemik ijazah Wakil Presiden
HUKUM DAN KRIMINAL
PALANGKA RAYA Sejumlah pemuda di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng), mendesak Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mundur dar
POLITIK
LABUHANBATU Video yang memperlihatkan dugaan penembakan dan penganiayaan terhadap seorang pria berinisial RA di perkebunan kelapa sawit
HUKUM DAN KRIMINAL
MEDAN Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejati Sumut) telah melakukan penyidikan selama enam bulan terhadap dugaan korupsi pengadaan laha
HUKUM DAN KRIMINAL