MEDAN – Tren karier di kalangan generasi Z menunjukkan perubahan paradigma yang signifikan.
Jika generasi sebelumnya cenderung mengejar posisi dan jabatan tinggi sebagai tolok ukur kesuksesan, generasi Z kini justru lebih tertarik pada karier yang menawarkan fleksibilitas, kestabilan finansial, dan keseimbangan hidup.Fenomena ini dikenal dengan istilah career minimalism, sebuah pendekatan baru dalam membangun karier yang menempatkan pekerjaan sebagai bagian dari hidup, bukan pusat identitas pribadi.
"Generasi Z melihat pekerjaan bukan sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai sarana untuk mencapai hidup yang stabil dan bermakna," tulis laporan Glassdoor yang dikutip Sabtu (20/9).Career minimalism mendorong Gen Z untuk tidak terpaku pada jalur karier linier seperti promosi jabatan atau naik level manajerial.
Sebaliknya, mereka cenderung melakukan "lompatan karier" dengan berpindah peran atau bahkan sektor industri demi menemukan pekerjaan yang sejalan dengan nilai dan gaya hidup mereka.Survei Glassdoor mencatat bahwa sekitar 68% Gen Z tidak tertarik menjadi manajer jika promosi tersebut tidak disertai dengan manfaat nyata, seperti peningkatan pendapatan atau waktu kerja yang lebih fleksibel.
"Posisi tinggi tanpa keseimbangan hidup bukanlah impian Gen Z. Mereka lebih memilih jabatan biasa tapi bisa tetap punya waktu untuk keluarga, hobi, atau pekerjaan sampingan," ungkap laporan tersebut.Dalam lanskap kerja modern, pekerjaan sampingan atau side hustle menjadi bagian penting dari gaya hidupGen Z.
Berdasarkan survei Harris Poll, 57% Gen Z memiliki pekerjaan sampingan, mulai dari freelance kreatif, bisnis online, hingga content creator.Bagi mereka, side hustle bukan sekadar upaya menambah pemasukan, tapi juga ruang untuk mengekspresikan diri, mengejar passion, dan membangun personal branding yang tak selalu tercermin dari pekerjaan utama.
"Kami ingin pekerjaan utama yang stabil, tapi juga punya ruang untuk membangun diri lewat side hustle," ujar Tania (26), seorang analis data yang juga memiliki bisnis kerajinan tangan daring.Gen Z juga cenderung menolak model kepemimpinan otoriter dan sistem kerja konvensional yang ketat.
Mereka menuntut organisasi yang terbuka, adaptif, dan menghargai keseimbangan kerja-hidup (work-life balance).Fleksibilitas waktu, kebebasan berekspresi, dan pengakuan terhadap keberagaman gaya kerja menjadi faktor penting dalam menentukan loyalitas mereka terhadap perusahaan.
Konsep career minimalism mencerminkan filosofi hidup yang lebih menyeluruh: karier penting, tetapi bukan satu-satunya hal yang menentukan identitas dan kebahagiaan. Dalam dunia yang makin cepat berubah, Gen Z lebih memilih untuk hidup secara otentik, terhubung dengan nilai pribadi mereka, bukan hanya status profesional.*
(cb/a008)
Editor
: Adelia Syafitri
Naik Jabatan? Nanti Dulu! Gen Z Lebih Suka Pekerjaan yang Sejalan dengan Nilai Hidup