BATU BARA - PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) menetapkan target ambisius dalam peta jalan hilirisasi aluminium nasional. Perusahaan berencana meningkatkan kapasitas produksi dari 275 ribu ton per tahun pada 2024 menjadi 900 ribu ton per tahun pada 2029.
Lonjakan kapasitas ini akan ditopang oleh pembangunan smelter baru di Mempawah serta penambahan potline keempat di Kuala Tanjung.
"Ini dapat meningkatkan kapasitas produksi aluminium dari 275 ribu ton per tahun menjadi 900 ribu ton per tahun pada 2029," ujar Direktur Utama Inalum, Melati Sarnita.
Di sisi lain, Inalum mencatat penjualan aluminium sebesar 132–142 ribu ton pada semester I-2025, atau 101% dari target perusahaan. Namun, kinerja penjualan produk alloy dan billet justru mengalami penurunan tajam.
Melati mengungkapkan, penurunan penjualan alloy dipicu melemahnya industri otomotif nasional. Sementara itu, penjualan billet hanya mencapai 60% dari RKAP, tertekan oleh lemahnya daya beli masyarakat dan stagnasi pembangunan infrastruktur.
"Ini juga menunjukkan lemahnya daya beli masyarakat dan tidak berjalannya pembangunan infrastruktur di Indonesia saat ini," jelasnya.
Optimisme Ekspansi dan Diversifikasi Pasar
Meski menghadapi tekanan pada dua segmen utama, manajemen Inalum tetap optimistis. Ekspansi kapasitas dan diversifikasi pasar disebut menjadi kunci untuk menjaga ketahanan perusahaan di tengah dinamika industri global maupun nasional.
"Kami percaya rencana pengembangan smelter dan diversifikasi pasar akan menjadi fondasi kuat bagi keberlanjutan Inalum," tutup Melati.*
(dv03)
Editor
: Redaksi
Inalum Bidik Produksi 900 Ribu Ton Aluminium pada 2029, Penjualan Alloy dan Billet Masih Tertekan