Laporan terbaru Bank Dunia bertajuk “East Asia and The Pacific Economic Update October 2025: Jobs" menyatakan anak muda Indonesia semakin sulit mendapatkan pekerjaan (Foto: CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
Jika tren ini terus berlanjut, Indonesia berpotensi kehilangan momentum bonus demografi yang diperkirakan mencapai puncaknya pada 2035.
"Fenomena ini terlihat dari maraknya pekerja platform seperti pengemudi daring, kurir, dan pekerja lepas yang berada di wilayah abu-abu antara kemandirian dan eksploitasi," ujarnya.
Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai deindustrialisasi dini menjadi penyebab utama tingginya pengangguran di kalangan muda.
"Dalam satu dekade terakhir, sektor industri kehilangan kemampuan menyerap tenaga kerja besar, padahal industri adalah motor utama penciptaan kerja," kata Rendy.
Sebagian besar angkatan kerja Indonesia masih didominasi lulusan pendidikan menengah ke bawah yang cocok untuk industri padat karya. Ironisnya, justru sektor-sektor seperti tekstil, garmen, dan alas kaki yang mengalami perlambatan.
Ia juga menilai kebijakan hilirisasi pertambangan belum memberi efek besar terhadap penyerapan tenaga kerja muda. "Lapangan kerja dari hilirisasi memang ada, tapi skalanya jauh lebih kecil dibandingkan manufaktur padat karya," jelasnya.
Akibatnya, banyak tenaga kerja muda tidak terserap pasar formal dan beralih ke sektor informal, memperlebar kesenjangan pendapatan dan menurunkan produktivitas nasional.
Selain pelemahan industri, ketidaksesuaian keterampilan (mismatch) juga menjadi hambatan utama. Banyak pencari kerja muda tidak memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri.
"Lowongan kerja ada, tapi keterampilan tidak sesuai. Ini masalah serius dalam struktur tenaga kerja kita," ujarnya.
Rendy mengapresiasi program Kartu Prakerja sebagai langkah positif peningkatan kompetensi tenaga kerja. Namun, menurutnya, pelatihan tanpa penciptaan lapangan kerja baru tidak akan menyelesaikan akar masalah pengangguran muda.
"Pelatihan harus diiringi strategi industrialisasi yang kuat. Tanpa itu, peserta tetap sulit terserap karena sektor penyerapnya melemah," jelasnya.
Untuk mengatasi masalah struktural pasar kerja, Rendy merekomendasikan dua langkah utama: mempercepat reindustrialisasi dan memperkuat pendidikan serta pelatihan vokasi.