Ethereum (ETH) turun lebih dari 11 persen, diperdagangkan di bawah 3.900 dollar AS atau Rp 64,35 juta.
Aset lain seperti Solana (SOL), BNB, dan XRP juga terkena tekanan jual hebat seiring pelaku pasar yang bergegas menjual asetnya untuk menghindari kerugian lanjutan.
Lonjakan volatilitas ini menjadi salah satu yang terbesar sepanjang sejarah pasar kripto.
Sejumlah platform seperti Binance dilaporkan mengalami gangguan teknis karena lonjakan trafik dan transaksi.
"Kami memantau situasi dan berupaya menyelesaikannya. Dana pengguna tetap aman," tulis Binance dalam pernyataan resminya di media sosial.
Sebelumnya, balasan tarif dari Kanada terhadap produk AS sempat memicu rebound singkat di pasar kripto.
Namun sentimen pasar tetap rapuh. Analis menilai, ketergantungan pasar kripto terhadap dinamika geopolitik menjadi perhatian serius bagi investor jangka panjang.
"Tarif sebesar 100 persen bukan hanya menekan rantai pasokan global, tetapi juga mengikis kepercayaan terhadap stabilitas jangka pendek," ungkap salah satu analis senior dari CryptoQuant.
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah China belum merespons secara resmi terhadap pengumuman Trump.
Namun banyak pihak memperkirakan Beijing tidak akan tinggal diam, terutama jika tarif benar-benar diberlakukan pada awal November mendatang.
Ketegangan ini diprediksi akan terus memengaruhi pasar global dalam beberapa pekan ke depan, termasuk menambah tekanan terhadap mata uang digital yang selama ini dianggap sebagai alternatif lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi.*