Yen Jepang turun 0,05%, dolar Singapura melemah 0,14%, won Korea Selatan turun 0,31%, peso Filipina melemah 0,16%, yuan China turun 0,08%, rupee India melemah 0,08%, dan ringgit Malaysia turun 0,30%.
Indeks dolar AS tercatat menguat 0,08% ke posisi 99,37, menjadi salah satu faktor tekanan bagi rupiah.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif sepanjang hari, dengan kisaran antara Rp16.700 hingga Rp16.740 per dolar AS.
Sentimen penguatan dolar dan pergerakan rupiah dipengaruhi sejumlah faktor global dan domestik.
Dari luar negeri, pasar mencatat suasana konstruktif pasca kesepakatan mengakhiri shutdown pemerintah AS, yang sekaligus meredam permintaan safe haven terhadap emas.
Investor kini menunggu rilis data ekonomi AS yang tertunda, serta mengantisipasi kemungkinan penurunan suku bungaThe Fed pada Desember 2025.
Sementara itu, dari dalam negeri, pemerintah Indonesia di bawah Presiden RI Prabowo Subianto menekankan disiplin fiskal dan stabilitas makro sebagai fondasi penguatan ekonomi.
Stabilitas harga dan inflasi yang terkendali, dengan inflasi inti diproyeksikan berada di rentang 2,5%-3,2%, dinilai mampu memberikan kepastian bagi rumah tangga maupun pelaku industri.
"Rupiah cenderung bergerak sideways dengan tekanan dolar AS dan sentimen global yang fluktuatif. Namun, fundamental domestik tetap mendukung stabilitas jangka menengah," ujar Ibrahim Assuaibi.*